Hari kemarin (21/11) saya berkesempatan untuk menghadiri suatu majlis ilmu yang diadakan oleh HIMA FTG (Fakultas Tehnik Geologi) Unpad bertempat di Gedung Aula Unpad Dipatiukur bersama Asri, Ecin, Rahma, Sopi (mahasiswi sastra arab Unpad), Tia (mahasiswi matematika Unpad) dan Maya (mahasiswi tafsir hadits UIN Bandung). Di acara pertama setelah opening ceremony, saya dipertemukan kembali dengan seorang trainer muda nan menginspirasi, Asep Wahidin Al Mufiid, sosok yang bersahaja, luar biasa perjuangannya, terpancar jelas karisma positifnya, potential booster, dialah trainer muda Indonesia. Sosok yang akrab disapa 'kang Asdin' ini memberikan berbagai energi penggugah jiwa di setiap kata yang dia lontarkan selama berdiri di depan ratusan peserta. Diantaranya dia mengingatkan saya tentang suatu kisah pada zaman Rasulullah dan para sahabat; ketika pada suatu waktu Rasulullah dan para sahabatnya sedang berkumpul, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "taukah kalian siapakah makhluk yang paling mulia dari golongan ciptaan-Nya?". Sejenak para sahabat diam, lalu menjawablah salah seorang diantara sahabat "malaikat ya Rasulullah". Rasulullah menanggapi "benar, malaikat adalah makhluk-Nya yang ta'at dan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka jelaslah bahwa malaikat itu mulia, tapi taukah kalian bahwa bukan itu yang aku maksud". Lalu seorang yang lain menjawab "para nabi ya Rasulullah". Rasulullah berkata "benar, para nabi adalah ciptaan-Nya yang selalu menyeru manusia untuk mengikuti jalan agama yang benar, jelaslah para nabi itu mulia, tapi bukan itu yang aku maksud wahai para sahabat". Lantas para sahabat bertanya "lalu siapakah makhluk mulia yang engkau maksud wahai Rasulullah?". Rasulullah menjawab "makhluk ciptaan Allah yang mulia adalah ummatku, ummatku yang hidup setelah aku wafat, ummatku yang hidup dalam keta'atannya kepada Sang Pencipta setelah aku tiada di muka bumi". Tidakkah kau bangga menjadi ummat Rasulullah kekasih Allah?
Ini memang kali kedua saya melihatnya setelah masa orientasi Fakultas Ilmu Budaya Unpad ketika itu. Penampilannya memang selalu memukau.
Setelah kurang lebih kang Asdin selesai menyebarkan energi dalam kalimat semangat mudanya, master of ceremony memberikan waktu istirahat kepada para peserta. Disaat yang lain istirahat, saya ditemani seorang teman menghampiri motivator tadi ke pinggir panggung untuk berphoto dengan trainer muda itu, saya kagum padanya.
Coffe break berakhir. Sambil menunggu peserta lain kembali memenuhi aula, peserta disajikan hiburan nasyid (saya lupa namanya) yang personilnya tiada lain mahasiswa Unpad.
Tibalah waktunya kami menerima "hadiah" kedua dari sosok menginspirasi lainnya. Birrul Qadriyah, mahasiswi berprestasi UGM 2013 yang sekaligus menjadi duta beasiswa bidik misi 2013 berhasil membuat mata, mulut, dan hati saya terpana akan pembuktiannya yang luar biasa. Dia menjadi pemateri kedua di acara tersebut. Mba Birrul menekankan bahwa kita harus menuliskan mimpi-mimpi kita. Tak sekedar menuliskan, tapi lalu mewujudkan. Mba Birrul memang luar biasa. Muslimah shalihah, fiddunia najaah, ahlul jannah. In syaa Allah.
Video yang ditayangkan sebelum mba Birrul naik panggung.
Sayangnya mba Birrul hanya tak sampai sejam memberikan "wejangannya" kepada para peserta karena mba Birrul harus menghadiri majlis di tempat lain dan mengejar jadwal kereta untuk pulang ke Yogyakarta.
Insan yang Dia kirimkan sebagai wasilah penggugah potensi untuk saya tak sampai disini. Tau Ahmad Rifa'i Rif'an? Ya, dia menjadi "guru" terakhir saya dalam acara kemarin. Jika pemateri sebelumnya lebih tegas bicaranya, mantap body languagenya, kang Ahmad hadir di depan dengan kesederhanaan dan sifat humoris namun tetap menginspirasi para peserta. Alumni mahasiswa teknik mesin ITS ini mengarahkan peserta untuk memiliki sikap produktif. Menurutnya produktif mempunyai pengertian menghasilkan banyak karya dalam waktu sesingkat mungkin. Kang Ahmad yang merupakan penulis buku Tuhan Maaf Kami Sedang Sibuk ini memberikan resep-resepnya untuk menjadi penguasa waktu, jangan sampai menjadi manusia yang dikuasai waktu, diantaranya:
- Buat jadwal kegiatan harian
- Setiap pagi, tulis aktivitas prioritas harian
- Sedia buku kemanapun pergi
- Hindari tontonan mubadzir
- Hapus musik cengeng dari hp dan laptop
Dia juga menekankan bahwa kita harus menuliskan apa yang ingin kita capai. Sering kita sebut "mimpi". Karena menurutnya tulisan mimpi yang kita tuliskan itu adalah do'a. Semakin kita sering melihat tulisan itu kita akan tergugah, karena sesuatu yang sering kita lihat dapat merangsang hormon yang membuat kita ingin beraction untuk mewujudkannya. Tulis!
Dia juga bercerita tentang jalannya bertemu dengan bidadari penyempurna setengah agamanya. Dia menuliskan target menikah pada umur 24 tahun. Namun ketika umurnya 23 tahun Allah belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan segera bertemu dengan jodohnya. Dia sempat berputus asa, gamang (kalau bahasa ABGnya "galau" mungkin ya) hehe dan pasrah kepada Allah sembari berdo'a "Ya Allah saya pasrahkan perkara ini kepada-Mu, saya yakin akan bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat, dan saya meminta yang terbaik menurut-Mu". Beberapa hari setelahnya kang Ahmad menerima pesan dari rekan kerjanya yang memberitahukan bahwa kang Ahmad harus menjalankan tugas bedah buku roadshow di daerahnya. Sampai tibalah waktunya dia menjadi pemateri bedah buku di Gramedia di daerahnya. Dan pesertanya shubhanallah sungguh sangat banyaaak sekali. Bisa kamu tebak berapa orang?
Satu orang. Ya, hanya satu orang. Dan satu orang peserta itulah yang sekarang tinggal satu atap dengan kang Ahmad. Kurang unik bagaimana skenario Allah (?). Jadi santai aja, mblo :D
Pada detik-detik akhir sebelum kang Ahmad undur diri dihadapan peserta kemarin, dia memberikan closing statement; "Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hukum taklifi itu ada lima, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Begitu pula dengan keadaan pemuda sekarang, pemuda sekarang tergolong pada lima; pemuda wajib yaitu pemuda yang ketika kehadirannya memberikan manfa'at dan tidak bisa jika dia tidak hadir, pemuda sunnah yaitu pemuda yang hadirnya memberi manfa'at namun ketidakhadirannya tidak apa-apa karena ada yang menggantikan, pemuda mubah adalah ada atau tidak adanya itu sama saja dan tidak berkontribusi apa-apa, pemuda makruh yaitu pemuda yang ketidak adaannya lebih menguntungkan dari pada jika pemuda itu ada, dan yang terakhir yang paling parah pemuda haram yaitu pemuda yang hidupnya selalu merugikan orang lain dan sama sekali tak memberikan manfa'at."
Tak lama setelah pemateri turun dari panggung, saya keluar dari aula untuk segera pulang ke Jatinangor karena senja telah sampai di penghujung garisnya.
Terimakasih kang Asdin.
Terimakasih mba Birrul.
Terimakasih kang Ahmad.
Terimakasih Semesta:)


