Showing posts with label || Travelling. Show all posts
Showing posts with label || Travelling. Show all posts

Sunday, February 15, 2015

Manglayang on Top

Sabtu, 17 Januari 2015. Saya, Nida, Widi, Lady, Safa, dan Fatima. Enam orang perempuan berkerudung bermodal tekad (baca: nekad) memulai langkahnya dari kaki Gunung Manglayang. Untuk saya dan Safa, ini kali kedua kita "nanjak" bareng setelah berhasil menempuh jalur Gunung Papandayan yang saya telah bagikan momennya pada tulisan yang lalu.
Disana, di kaki gunung, di salah satu pohon pinus, terpampang beberapa petunjuk yang ada arah panahnya menunjukan jalur ke beberapa tempat tujuan. Kita kira untuk sampai ke puncak, diharuskan melewati batu kuda yang sebenar-benarnya batu. Jadilah kita memilih jalan menuju tempat dimana batu yang khalayak sebut Batu Kuda itu berada.
Sesampainya kita di tempat Batu Kuda, kita kebingungan karena di tempat itu tidak ada apa-apa selain batu besar yang kita yakini sebagai "Batu Kuda". Dan kita tidak tahu lagi trek mana yang harus ditempuh. Untung saja tak jauh dari tempat kita berhenti, ada seorang lelaki yang lebih pantas kita panggil "bapak" sedang terdiam seperti sedang menjalankan tugasnya menjadi kuncen, hehe. Setelah kita bertanya padanya, bapak itu lalu menjawab "seharusnya dari jalan yang pertigaan tadi neng-neng ga usah belok, lurus aja ke jalan yang nanjak, jalan sini mah muter", ooh ternyata kita menempuh jalur yang kurang tepat. Tapi tak apa-apa. Pasti selalu ada hikmah. Setelah kita dan sang bapak saling tanya jawab dan mendapatkan arahan untuk sampai ke puncak, kita melanjutkan perjalanan. Disana mulai terdengar bisikan angin yang berbentur dedaunan. Mendamaikan.
Bagaimanapun keadaannya, khawatir, lelah, takut, tapi karena kita bersama, semuanya hilang terbenam canda tawa. Bayangkan saja, kita yang hanya enam orang perempuan dan tak ada satu orang pun diantara kita yang berpengalaman menempuh puncak Manglayang, memberanikan diri mengayun langkah tanpa sosok dhahir yang lebih kuat dari kita, dengan perlengkapan dan perbekalan seadanya pula. Tapi iya, dari sini kita belajar dan jadi banyak tahu.
Sesekali kita berhenti. Berfoto. Melangkah lagi. Semakin atas, semakin atas, semakin terasa seperti sembilan puluh derajat kemiringan trek yang kita tempuh. Lelah ada, namun ketika kita berhenti sejanak dan melihat ke belakang, lelah itu terbayar oleh hamparan sebagian bumi yang kita lihat dari sana. Shubhanallaah.

Bahagia sekali rasanya ketika kita menemukan papan nama yang tertempel di pepohonan bertuliskan "puncak". Karenanya kita menyangka bahwa puncak gunung hanya tinggal beberapa langkah lagi, tak kurang dari lima puluh langka, disangkanya begitu. Tapi ternyata tidak, ternyata kita masih belum menemukan tanda-tanda bahwa kita dekat dengan puncak. Saya sempat takut kalau ternyata kita menapaki jalur yang salah. Tapi teman-teman selalu menjadi alasan untuk bisa menepis keraguan. Jalan saja terus.
Tiga kilometer, 1818 mdpl, akhirnya berhasil kita tempuh.Sudah tak peduli dengan bersih, kita langsung selonjoran di tanah. Tak jauh dari tempat kita duduk, terdapat makam. Dan dari arah yang berlawanan, terdapat plang berwarna biru menancap ke tanah bertuliskan "PUNCAK MANGLAYANG 1818 MDPL" yang sudah tercemari oleh ulah tangan yang gatal ingin mencoretinya.

Setelah beberapa saat kita "anteng" di puncak, kita turun melalui jalur yang sama. Bedanya ketika turun, sudah banyak para pendaki yang kita temui. Berbeda dengan saat kita naik, karena memang kita sengaja naik gunung masih pagi. Dan memang kata bapak yang tadi memberikan arahan ketika kita di Batu Kuda, "umumnya para pendaki memilih naik pada siang atau sore hari, apalagi kalau hari sabtu dan minggu", begitu katanya.
Sampai saat ini saya belum menemukan tempat yang lebih nyaman untuk dijadikan tempat liburan selain hijaunya dedaunan. Merdunya semilir angin dan deru ombak. Puasnya meniti puncak. Alam. Dan kalian, teman-teman.
Terima kasih. Masih banyak tempat-tempat indah yang belum kita jajaki. Semoga diridhai.

Friday, October 31, 2014

Jatuh Cinta Pada Pendakian Pertama

Ketika liburan akhir semester, saya diberi kesempatan untuk berpetualang ke Gunung Papandayan yang terletak di Kota Garut bersama beberapa teman dan kakak kelas sewaktu di Aliyah dulu. Karena ini kali pertama saya mendaki dan bermalam disana, saya belum hafal betul barang apa saja yang harus saya bawa ketika itu. Untungnya untuk perlengkapan kemah sudah ada yang menyediakan. Alhasil berangkatlah saya dengan perlengkapan seadanya, sangat seadanya; jaket yang tipis, sepatu kets yang biasa dipakai sekolah. Namun karena keinginan yang lebih besar untuk sampai di tujuan membuat saya merasa bahwa perlengkapan yang seadanya bukan menjadi penghalang untuk saya sampai disana. Namanya juga pemula hehe. Singkat cerita pada tanggal 3 Agustus 2014 berangkatlah saya bersama empat rekan lainnya dari Bandung menuju Garut menggunakan jasa elp.
Setelah sampai di Garut kita bertemu dengan tiga rekan lainnya. Disana kita menyiapkan dan re-check perlengkapan terlebih dahulu, mulai dari makanan, peralatan kemah, kendaraan, dan lain-lainnya.
Sebelum mulai mendaki kita harus menuju kaki gunung terlebih dahulu dan untuk sampai ke kaki gunung kita harus melalui jalan yang luar biasa, kalau kata salahsatu rekan saya "kayak naik ombak banyu", jalan yang banyak bolong-bolongnya parah itu membuat badan sakit dan pegel ketika sampai di kaki gunung. Tapii.... masa gitu aja nyerah.

Pendakianpun dimulaai!!

Setelah beberapa menit istirahat kita memulai pendakian, Udara disana sangat dingin sampai bukan hanya menusuk ke kulit tapi juga menusuk ke hidung. Belum lagi ditambah kepulan kabut yang keluar dari beberapa kawah. Di menit-menit awal kita masih terlihat kuat, tapi setelah beberapa lama kemudian kita mulai ngos-ngosan dan sering istirahat. Tidak terhitung berapa kali kita istirahat dari kaki gunung sampai ke tempat kemah. Canda tawa dan view pemandangan yang indah menjadi penguat untuk kita sampai di tujuan, belum lagi panorama kawah dan pemandangan lainnya yang memanjakan mata. Satu hal yang saya baru ketahui dan sangat saya sukai adalah bahwa antara pendaki dengan pendaki lainnya itu memiliki etika yang ramah, tak peduli itu siapa, tak peduli kenal atau tidak, tak peduli diluar atau aslinya dia bersifat judes atau acuh, tapi ketika mendaki gunung dan dia bertemu dengan pendaki gunung lainnya mereka akan saling bertegur sapa, atau bahkan terkadang menyemangati. Interest thing.

Setelah menempuh kurang lebih 4 jam pendakian, sampailah kita di tempat perkemahan gunung papandayan, kita sampai disana kurang lebih jam lima sore. Sementara kita istirahat, teman-teman lelaki mendirikan tenda.

Malam pun tiba, suhu gunung dan hembusan angin yang seringkali menyapa tubuh saya semakin membuat saya merasa kedinginan, karena yaa yang saya katakan di awal, saya membawa jaket yang biasa-biasa saja, jaket sport yang di belakangnya bertuliskan "GERMANY" hehe. Malam itu setelah semua selesai shalat, kita berkumpul di tenda dengan kompor portable di tengah-tengah seolah menjadi penghangat, tapi tujuan utamanya bukan itu, kita berbincang, bercanda, berceloteh, sambil memasak mie. Setelah merasa damai karena perut telah tertunaikan haknya. kita mulai memejamkan mata.

Malam yang gelap telah berganti menjadi pancaran sinar yang berasal dari matahari. Pagi yang indah sekali. Embun yang menetes dari ujung daun yang mau tak mau membuat daun itu merunduk. Pemandangan yang mulai terlihat meskipun masih diselimuti kabut. Tepat di depan tenda tempat kita tidur terlihat gunung yang menjulang, puncak Gunung Papandayan. Shubhanallah. Inilah salahsatu dari beberapa karya Tuhan yang saya lihat. Begitu indah. Ini belum seberapa, ada tempat dimana disana akan membuat saya lebih takjub lagi akan kekuasaan-Nya. Jannah-Nya salahsatunya.

Tibalah saatnya untuk kami kembali turun ke kaki gunung setelah kita membereskan segala halnya. Dalam perjalanan menuju kaki gunung kita menempuh jalan yang berbeda dengan rute ketika kita berangkat. Kita melewati death florest (hutan mati) yang sangat indah. Karena perjalanan menuju kaki gunung lebih mudah daripada pendakian sehingga tidak sering istirahat, akhirnya kurang dari empat jam kita sudah sampai di kaki gunung.
Dan kitapun kembali ke rumah masing-masing dengan rasa senang, cape, takjub dan penuh syukur terhadap segala yang kita alami dan kita lihat di sepanjang perjalanan kita. Karena ada beberapa hal yang tidak oranglain rasakan dan hanya dirasakan oleh yang sudah mendaki gunung. Banyak hikmah disana. Dan dari sinilah saya semakin jatuh cinta, pada-Nya dan pada keajaiban ciptaan-Nya.

Dan kita tidak mempunyai alasan untuk tidak mengabadikan setiap keindahan ciptaan-Nya:


Nanjak


Istirahat, setelah kurang lebih menempuh tiga jam pendakian.


Pondok Salada (lahan perkemahan)