Wednesday, November 12, 2014

Kun!! Fayakun

Kapan kita mati?. Bukan. Bukan saya ingin anda atau saya segera mati. Coba renungkan ketika di dalam benak kita terbesit pertanyaan tersebut. Lalu, sudah berapa banyak bekal yang kita siapkan untuk menghadapinya? Sudah siapkah ketika pagi hari kita masih sehat bugar padahal malaikat maut sedang bersiap mencabut nyawa kita?
Karena ajal tak mengenal sehat atau sakit, tak mengenal tua atau muda, tak mengenal kaya atau miskin, tak mengenal gila atau waras, semua bergiliran tanpa pengklasifikasian hal.
Siapa sangka jika Pak Ipin yang baru saja pulang bermain badminton di gor dekat rumahnya tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Siapa sangka bapak tukang warteg dekat kosan saya menemui ajalnya sepulang belanja dari pasar.
Allah. Segalanya memang mudah bagi-Nya untuk menentukan kehidupan aktor-Nya di dunia. Dalam sekejap. "Tak semudah membalikan telapak tangan" tak berlaku bagi Sang Maha Raja. Kun!! Fayakun.
Pasti. Akan tiba suatu hari kita harus kembali "pulang". Semuanya akan kembali. Akankah sembari tersenyum tatkala yang ditinggalkan menangis. Atau sembari menangis dan yang lain tersenyum ketika kita "pulang".
Terkadang masih saja merasa percaya diri bahwa kita akan masuk syurga, sementara khilaf dan dosa menggunung hampir menyentuh langit. Masih saja merasa bahwa ajal masih jauh, padahal dia datang tak seperti hujan yang memperlihatkan mendungnya terlebih dahulu.
Sudah punya bekal apa?
Sudah punya bekal apa....
Sudah punya bekal apa........


#NoteToMySelf.

2 comments:

  1. Great :)

    What's your opinion about this statement:
    *God creates us and then he takes us. It's just like we are a playing*
    So, what's the useful of our worship?

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiih :)

      simple aja, menyiapkan perbekalan untuk "disana" ^^
      maaf aku ga ahli bhs inggris hehe

      Delete