Showing posts with label || #NoteToMySelf. Show all posts
Showing posts with label || #NoteToMySelf. Show all posts

Friday, July 24, 2015

"Pingin nikah aja"=rengekan andalan

Rutinitas yang sedang saya, atau mungkin kamu juga tekuni, kuliah. Semakin naik tingkat, waktu istirahat pun semakin singkat. Bagaimana tidak, kian waktu dosen semakin bejibun memberikan berbagai tugas yang harus dikerjakan dalam waktu yang ditentukan, pula dengan schedule dan kesibukan yang tidak ditentukan. Semua itu membuat mahasiswa sibuk dengan pikiran tentang tugas. Walaupun ada yang disibukkan dengan nugas, pun ada yang melulu disibukan dengan pikiran tentang tugas, dikerjainnya mah engga, nanti aja kalau mepet. Seperti-saya-hehehe. Tapi ga sering ko, bener.
“Ya Allaah, AKU MAH PINGIN NIKAH AJA”. Begitulah ucapan yang akhir-akhir ini sering saya dengar dari teman-teman di kampus. Utamanya jika kita sedang berada dalam suatu bulatan mengerjakan suatu tugas kelompok. Kalau tugasnya tidak simple, entah itu pertanyaannya yang banyak, susah ditemukan jawabannya, atau dirinya sedang dihinggapi rasa malas, begitulah mulutnya berbicara. Pingin nikah aja. Seolah menikah adalah fase untuk istirahat dari berbagai masalah.
Mungkin dia lelah. Lelah akan segala tektek bengek perkuliahan. Tugas yang menggunung, godaan malas yang mendera, dosen yang tak sepemikiran, teman yang bermacam karakter, organisasi, dan lain-lain. Padahal, kata imam syafi’i; “bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan”.
Pun menikah. Kata seseorang yang ketika itu sedang ngobrol dengan saya, mengatakan bahwa menikah itu bukan suatu ajang untuk melepas berbagai kepenatan hidup, justru menikah harus lebih membutuhkan kesiapan dan kedewasaan mental yang lebih, menikah itu salah satu sekolah hidup. Dan saya setuju. Saya menimpali, membetulkan tanggapannya dan mengatakan bahwa, justru ilmu lah yang penting kita cari sekarang, karena apa, karena segalanya membutuhkan ilmu, “jangan beramal tanpa ilmu”. Belum lagi urusan yang makin terbagi-bagi, karena menikah bukan lagi hanya tentang aku, tapi kita, keluarga. Apalagi perempuan, “tanah yang baik akan mengahasilkan tanaman yang baik”.
Tidak berarti kontra pada pernikahan saat masih mahasiswa, tapi lebih ke rengekan “pingin nikah aja” saat mencari ilmu, can you stop it and fight first for having knowledge, insight and experience (?) :D

Muslimah, jangan lupa bahwa dirimu berharga

Sumber: Google
Berangkat dari ketidaknyamanan saya menyaksikan maraknya perempuan islam yang semakin berani untuk mempublikasikan kecantikan, mengeraskan suara, memperbanyak bicara dengan lawan jenis yang bukan mahramnya dengan nada centil dalam obrolan yang tidak penting, akhirnya saya memberanikan diri menulis ini. Mencurahkan segala keluh akan hal tersebut. Karena sudah sejak lama ingin menulis ini, namun terhambat perlawanan “memang aku sudah sepintar apa dalam hal agama?”, “tanpa disadari aku juga pernah dan mungkin akan berlaku seperti itu?”, tapi setidaknya dengan menulis ini dan ada yang membaca ini, nantinya akan ada yang mengingatkan jika memang saya berlaku begitu. Entah itu kamu yang sedang membaca tulisan ini, atau diri saya sendiri yang mengingatkan.
Disini saya hanya akan memberikan pemaparan mengutip dari beberapa narasumber yang saya pernah ikuti. Saya pernah ikut seminar kemuslimahan bersama teh Maimun (dosen Fikom Unpad), katanya begini “Perempuan itu cantiknya hanya untuk Dia dan dia. Laki-laki itu liat wajah aja udah ‘sesuatu’, apalagi kalau ga ditutup auratnya. Tidak usah berniat berpenampilan supaya dipuji manusia. Maka dari itu LABUHKAN JILBABMU SAMPAI MENUTUP DADA, pakai pakaian yang ga ketat. Yang menutup aurat, bukan yang membungkus aurat”. Kalau kata Ust. Felix “Islam itu didominasi oleh kaum perempuan, karena itulah mengapa kaum yahudi berusaha menjajah islam di area akhlak para muslimah. Kenapa muslimah? Selain karena islam didominasi perempuan, pun karena muslimah ibarat tanah yang nantinya akan menghasilkan tanaman, yang jika tanah itu baik maka baik pula lah tanaman yang tumbuh. Namun jika tanahnya kacau, maka jelek pula lah tanamannya.”
Siapalah saya yang berani-berani menulis ini. Namun karena sayang, pun sedang berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Dan saya tidak mau sendiri dalam perbaikan ini :)
Muslimah, jangan lupa bahwa diri kita berharga.


Soreang-Bandung, 22 Mei '15

Saturday, November 15, 2014

Tanda Seru (!)

Kau bilang ingin membuktikan pada Semesta.
Tapi tak berintegrasi dengan aksi nyata.

Kau bilang ingin bahagiakan orang tua.
Tapi kau terus menerus manja.

Kau bilang ingin menjadi yang shalehah.
Tapi kau ulang lagi dan lagi khilaf dan salah.

Kau bilang sukses itu harus.
Tapi pesimis jika alur tak berjalan mulus.


Kau berkata. Kau tak melakukannya.



                                                                                #NoteToMySelf.


Wednesday, November 12, 2014

Kun!! Fayakun

Kapan kita mati?. Bukan. Bukan saya ingin anda atau saya segera mati. Coba renungkan ketika di dalam benak kita terbesit pertanyaan tersebut. Lalu, sudah berapa banyak bekal yang kita siapkan untuk menghadapinya? Sudah siapkah ketika pagi hari kita masih sehat bugar padahal malaikat maut sedang bersiap mencabut nyawa kita?
Karena ajal tak mengenal sehat atau sakit, tak mengenal tua atau muda, tak mengenal kaya atau miskin, tak mengenal gila atau waras, semua bergiliran tanpa pengklasifikasian hal.
Siapa sangka jika Pak Ipin yang baru saja pulang bermain badminton di gor dekat rumahnya tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Siapa sangka bapak tukang warteg dekat kosan saya menemui ajalnya sepulang belanja dari pasar.
Allah. Segalanya memang mudah bagi-Nya untuk menentukan kehidupan aktor-Nya di dunia. Dalam sekejap. "Tak semudah membalikan telapak tangan" tak berlaku bagi Sang Maha Raja. Kun!! Fayakun.
Pasti. Akan tiba suatu hari kita harus kembali "pulang". Semuanya akan kembali. Akankah sembari tersenyum tatkala yang ditinggalkan menangis. Atau sembari menangis dan yang lain tersenyum ketika kita "pulang".
Terkadang masih saja merasa percaya diri bahwa kita akan masuk syurga, sementara khilaf dan dosa menggunung hampir menyentuh langit. Masih saja merasa bahwa ajal masih jauh, padahal dia datang tak seperti hujan yang memperlihatkan mendungnya terlebih dahulu.
Sudah punya bekal apa?
Sudah punya bekal apa....
Sudah punya bekal apa........


#NoteToMySelf.

Friday, October 31, 2014

You Will Be


Mimpi,
Mimpi yang muncul tenggelam dalam irama nada kehidupan membuat raga dan hati tak henti mencari jatidiri.
Nyaris saja dia menghilang hanyut terbawa ombak yang tak kuasa ku genggam kuat.
Nyaris saja dia menghilang tergulung angin badai yang tak kuasa ku lawan, nyaris.
Bukanlah jarang diri ini merasa tak berarah tujuan, seolah berada dalam ruangan putih nan luas tanpa pintu, tak kutemukan titik terang kemanapun ku pergi.

Tetapi......


Tetapi....
Tuhan membangunkanku dan menyadarkanku dari tidur itu. Seolah Tuhan ingin melihat bukti, bukti bahwa mimpi tak terus menerus menjadi ilusi. Tiada daya dan upaya yang ku bisa lakukan selain dari-Nya. Dia disana, di satu titik puncak yang harus jatuh bangun aku menggapainya. "Ketika di tengah perjalanan kau merasa lemah, kenapa tak kau minta kekuatan pada yang Maha Kuat rin. Juga ketika hatimu merasa lelah, kenapa tak kau pinta pada Sang Maha Membolak-balikan Hati agar hatimu senantiasa ditentramkan". Mengalirlah terus, mengalirlah seperti air yang hendak bermuara. Pun dalam ketenangan dan kepasrahanya, air mampu melawan halangan dan menerobos celah yang menjadi hambatannya. Karena mimpi itu harus menjadi nyata, nyata dihadapan Semesta.