Aku
terbang melayang di awang-awang memandang kabut berteman hembus angin pagi. Ini
tentang syukur. Ini tentang bahagia. Yang seluruh insan berhak menjiwainya. “Hey
nak, mengapa tak kau ambil wasilah yang kusodorkan ini?”. Sering terlupakan dan
dianggap kurang memikat padahal buahnya nikmat. Begitupun syukur. Aku membayangkan mungkin
begitu Tuhan berbisik seperti seorang dewasa yang sedang membujuk bocah. Beri
aku ma’af Tuhan. Ribuan pasir pantai dan buih lautan pun masih tak seberapa dibanding
nikmat-Mu yang sering aku nafikan. Tidak sakit hatikah Kau pada jiwa yang tak
tahu malu ini?. Yang meminta setiap detik dan mengeluh tanpa titik. Tapi
jangan, jika kau menjauh, lantas dari siapa lagi aku menimbun kekuatan selain
dari Kau yang Maha Kuat. Sumbernya.
Ada
lengkung bulan sabit di pagi hari. Aneh. Oh, bukan. Itu senyum orang tuaku. Bibirnya
bersinar tamah menyapa sadarku. Tulus.
Hembusan angin pagi ikut serta menyapa
setelah kubuka jendela dan menyapa semesta. “Selamat pagi semesta”, ku berbisik
dalam hembusan angin. Biarlah itu terekam. Biarlah angin membawa suara itu
mengitari alam raya. Biarkanlah dia menyampaikannya. Semesta, itu dariku,
seorang yang kini sedang ditemani kepulan asap dari segelas teh hangat. Sudikah
kau menemaniku menikmati ini?. Mari sini.
Diam.
Jangan dulu mengganggu. Benar-benar inginku pagi ini bercumbu dengan sang pagi.
Hanya aku dan nya. Dia mendamaikan. Menyejukkan. Tanpa maksud ku membenci
siang. Kabut, janganlah dulu pergi. Kau indah. Menutup peliknya miniatur
duniawi. Biarkan begini saja. Hanya putih bersih.
Namun
akhirnya perlahan kabut menyeruwak kabur ketika sang surya menerpa. Pagi hilang
berganti siang. Bulan sabit tak perlu terbalik. Siang pun menangguhkan.
Pagi,
selamat berjumpa kembali esok hari. Jika Dia merestui.

0 komentar:
Post a Comment