Tuesday, January 20, 2015

Menyapa Pagi


Aku terbang melayang di awang-awang memandang kabut berteman hembus angin pagi. Ini tentang syukur. Ini tentang bahagia. Yang seluruh insan berhak menjiwainya. “Hey nak, mengapa tak kau ambil wasilah yang kusodorkan ini?”. Sering terlupakan dan dianggap kurang memikat padahal buahnya nikmat. Begitupun syukur. Aku membayangkan mungkin begitu Tuhan berbisik seperti seorang dewasa yang sedang membujuk bocah. Beri aku ma’af Tuhan. Ribuan pasir pantai dan buih lautan pun masih tak seberapa dibanding nikmat-Mu yang sering aku nafikan. Tidak sakit hatikah Kau pada jiwa yang tak tahu malu ini?. Yang meminta setiap detik dan mengeluh tanpa titik. Tapi jangan, jika kau menjauh, lantas dari siapa lagi aku menimbun kekuatan selain dari Kau yang Maha Kuat. Sumbernya.
Ada lengkung bulan sabit di pagi hari. Aneh. Oh, bukan. Itu senyum orang tuaku. Bibirnya bersinar tamah menyapa sadarku. Tulus.
Hembusan angin pagi ikut serta menyapa setelah kubuka jendela dan menyapa semesta. “Selamat pagi semesta”, ku berbisik dalam hembusan angin. Biarlah itu terekam. Biarlah angin membawa suara itu mengitari alam raya. Biarkanlah dia menyampaikannya. Semesta, itu dariku, seorang yang kini sedang ditemani kepulan asap dari segelas teh hangat. Sudikah kau menemaniku menikmati ini?. Mari sini.

Diam. Jangan dulu mengganggu. Benar-benar inginku pagi ini bercumbu dengan sang pagi. Hanya aku dan nya. Dia mendamaikan. Menyejukkan. Tanpa maksud ku membenci siang. Kabut, janganlah dulu pergi. Kau indah. Menutup peliknya miniatur duniawi. Biarkan begini saja. Hanya putih bersih.
Namun akhirnya perlahan kabut menyeruwak kabur ketika sang surya menerpa. Pagi hilang berganti siang. Bulan sabit tak perlu terbalik. Siang pun menangguhkan.

Pagi, selamat berjumpa kembali esok hari. Jika Dia merestui.

0 komentar:

Post a Comment