Showing posts with label || My Imagine. Show all posts
Showing posts with label || My Imagine. Show all posts

Monday, February 16, 2015

Aku Pernah

Setelah turun dengan lebat, hujan diluar mulai mereda rintik-rintik. Muda-mudi mulai lagi hilir mudik. Tapi di suatu ruangan....

"Kamu pernah berpapasan di pinggir jalan raya dengan sesosok ibu yang tanpa basa-basi meminta uang dengan muka melas dihadapanmu? Aku pernah.
Pernahkah karyamu tidak diapresiasi dan dia berkata bahwa karyamu itu buatan si Fulan dan bukan buatanmu? Aku pernah.
Kamu pernah menangis ketika shalat setelah kamu mendapatkan kebahagiaan tiada tara? Aku pernah.
Kamu pernah merasa bahagia hanya karena merasakan dingin dan segarnya air wudhu di waktu shubuh? Cobalah, syukur dan bahagia ternyata tak harus dengan banyak digit angka.
Pernahkah kamu merasa rindu dengan salah satu keluargamu yang sudah meninggalkanmu terlebih dulu ke sisi-Nya? Aku setiap detik.
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu akan mati besok? Aku sedih karena aku tak sering merasakan itu.
Apakah kamu selalu bertanya-tanya mengapa kita tak merasakan goncangan padahal planet kita ini berputar dan bergerak, mengapa langit dapat terhampar diatas sana padahal tak bertiang, mengapa kita bergerak padahal manusia tak ada kabel listrik atau tempat batrainya? Aku pernah."

Dan cicak yang sedari tadi hinggap di langit-langit kamar itu enggan bergerak seolah seksama mendengar celotehan Fahda padanya.

Saturday, November 15, 2014

Tanda Seru (!)

Kau bilang ingin membuktikan pada Semesta.
Tapi tak berintegrasi dengan aksi nyata.

Kau bilang ingin bahagiakan orang tua.
Tapi kau terus menerus manja.

Kau bilang ingin menjadi yang shalehah.
Tapi kau ulang lagi dan lagi khilaf dan salah.

Kau bilang sukses itu harus.
Tapi pesimis jika alur tak berjalan mulus.


Kau berkata. Kau tak melakukannya.



                                                                                #NoteToMySelf.


Wednesday, November 12, 2014

Kun!! Fayakun

Kapan kita mati?. Bukan. Bukan saya ingin anda atau saya segera mati. Coba renungkan ketika di dalam benak kita terbesit pertanyaan tersebut. Lalu, sudah berapa banyak bekal yang kita siapkan untuk menghadapinya? Sudah siapkah ketika pagi hari kita masih sehat bugar padahal malaikat maut sedang bersiap mencabut nyawa kita?
Karena ajal tak mengenal sehat atau sakit, tak mengenal tua atau muda, tak mengenal kaya atau miskin, tak mengenal gila atau waras, semua bergiliran tanpa pengklasifikasian hal.
Siapa sangka jika Pak Ipin yang baru saja pulang bermain badminton di gor dekat rumahnya tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Siapa sangka bapak tukang warteg dekat kosan saya menemui ajalnya sepulang belanja dari pasar.
Allah. Segalanya memang mudah bagi-Nya untuk menentukan kehidupan aktor-Nya di dunia. Dalam sekejap. "Tak semudah membalikan telapak tangan" tak berlaku bagi Sang Maha Raja. Kun!! Fayakun.
Pasti. Akan tiba suatu hari kita harus kembali "pulang". Semuanya akan kembali. Akankah sembari tersenyum tatkala yang ditinggalkan menangis. Atau sembari menangis dan yang lain tersenyum ketika kita "pulang".
Terkadang masih saja merasa percaya diri bahwa kita akan masuk syurga, sementara khilaf dan dosa menggunung hampir menyentuh langit. Masih saja merasa bahwa ajal masih jauh, padahal dia datang tak seperti hujan yang memperlihatkan mendungnya terlebih dahulu.
Sudah punya bekal apa?
Sudah punya bekal apa....
Sudah punya bekal apa........


#NoteToMySelf.