Ketika liburan akhir semester, saya diberi kesempatan untuk berpetualang ke Gunung Papandayan yang terletak di Kota Garut bersama beberapa teman dan kakak kelas sewaktu di Aliyah dulu. Karena ini kali pertama saya mendaki dan bermalam disana, saya belum hafal betul barang apa saja yang harus saya bawa ketika itu. Untungnya untuk perlengkapan kemah sudah ada yang menyediakan. Alhasil berangkatlah saya dengan perlengkapan seadanya, sangat seadanya; jaket yang tipis, sepatu kets yang biasa dipakai sekolah. Namun karena keinginan yang lebih besar untuk sampai di tujuan membuat saya merasa bahwa perlengkapan yang seadanya bukan menjadi penghalang untuk saya sampai disana. Namanya juga pemula hehe. Singkat cerita pada tanggal 3 Agustus 2014 berangkatlah saya bersama empat rekan lainnya dari Bandung menuju Garut menggunakan jasa elp.
Setelah sampai di Garut kita bertemu dengan tiga rekan lainnya. Disana kita menyiapkan dan re-check perlengkapan terlebih dahulu, mulai dari makanan, peralatan kemah, kendaraan, dan lain-lainnya.
Sebelum mulai mendaki kita harus menuju kaki gunung terlebih dahulu dan untuk sampai ke kaki gunung kita harus melalui jalan yang luar biasa, kalau kata salahsatu rekan saya "kayak naik ombak banyu", jalan yang banyak bolong-bolongnya parah itu membuat badan sakit dan pegel ketika sampai di kaki gunung. Tapii.... masa gitu aja nyerah.
Pendakianpun dimulaai!!
Setelah beberapa menit istirahat kita memulai pendakian, Udara disana sangat dingin sampai bukan hanya menusuk ke kulit tapi juga menusuk ke hidung. Belum lagi ditambah kepulan kabut yang keluar dari beberapa kawah. Di menit-menit awal kita masih terlihat kuat, tapi setelah beberapa lama kemudian kita mulai ngos-ngosan dan sering istirahat. Tidak terhitung berapa kali kita istirahat dari kaki gunung sampai ke tempat kemah. Canda tawa dan view pemandangan yang indah menjadi penguat untuk kita sampai di tujuan, belum lagi panorama kawah dan pemandangan lainnya yang memanjakan mata. Satu hal yang saya baru ketahui dan sangat saya sukai adalah bahwa antara pendaki dengan pendaki lainnya itu memiliki etika yang ramah, tak peduli itu siapa, tak peduli kenal atau tidak, tak peduli diluar atau aslinya dia bersifat judes atau acuh, tapi ketika mendaki gunung dan dia bertemu dengan pendaki gunung lainnya mereka akan saling bertegur sapa, atau bahkan terkadang menyemangati. Interest thing.
Setelah menempuh kurang lebih 4 jam pendakian, sampailah kita di tempat perkemahan gunung papandayan, kita sampai disana kurang lebih jam lima sore. Sementara kita istirahat, teman-teman lelaki mendirikan tenda.
Malam pun tiba, suhu gunung dan hembusan angin yang seringkali menyapa tubuh saya semakin membuat saya merasa kedinginan, karena yaa yang saya katakan di awal, saya membawa jaket yang biasa-biasa saja, jaket sport yang di belakangnya bertuliskan "GERMANY" hehe. Malam itu setelah semua selesai shalat, kita berkumpul di tenda dengan kompor portable di tengah-tengah seolah menjadi penghangat, tapi tujuan utamanya bukan itu, kita berbincang, bercanda, berceloteh, sambil memasak mie. Setelah merasa damai karena perut telah tertunaikan haknya. kita mulai memejamkan mata.
Malam yang gelap telah berganti menjadi pancaran sinar yang berasal dari matahari. Pagi yang indah sekali. Embun yang menetes dari ujung daun yang mau tak mau membuat daun itu merunduk. Pemandangan yang mulai terlihat meskipun masih diselimuti kabut. Tepat di depan tenda tempat kita tidur terlihat gunung yang menjulang, puncak Gunung Papandayan. Shubhanallah. Inilah salahsatu dari beberapa karya Tuhan yang saya lihat. Begitu indah. Ini belum seberapa, ada tempat dimana disana akan membuat saya lebih takjub lagi akan kekuasaan-Nya. Jannah-Nya salahsatunya.
Tibalah saatnya untuk kami kembali turun ke kaki gunung setelah kita membereskan segala halnya. Dalam perjalanan menuju kaki gunung kita menempuh jalan yang berbeda dengan rute ketika kita berangkat. Kita melewati death florest (hutan mati) yang sangat indah. Karena perjalanan menuju kaki gunung lebih mudah daripada pendakian sehingga tidak sering istirahat, akhirnya kurang dari empat jam kita sudah sampai di kaki gunung.
Dan kitapun kembali ke rumah masing-masing dengan rasa senang, cape, takjub dan penuh syukur terhadap segala yang kita alami dan kita lihat di sepanjang perjalanan kita. Karena ada beberapa hal yang tidak oranglain rasakan dan hanya dirasakan oleh yang sudah mendaki gunung. Banyak hikmah disana. Dan dari sinilah saya semakin jatuh cinta, pada-Nya dan pada keajaiban ciptaan-Nya.
Dan kita tidak mempunyai alasan untuk tidak mengabadikan setiap keindahan ciptaan-Nya:
Nanjak
Istirahat, setelah kurang lebih menempuh tiga jam pendakian.
Pondok Salada (lahan perkemahan)



0 komentar:
Post a Comment