Wednesday, January 7, 2015

Membanding-bandingkan Anak, Bolehkah?

Tak sengaja saya mendengar percakapan (baca: nasihat) seorang ibu kepada anaknya setelah si anak menerima laporan hasil nilai (raport) dari sekolahnya. Panjang lebar ibu itu menasehati anaknya, karena mungkin hasil nilai anaknya tak sesuai dengan ekspektasi si ibu. "Tuh lihat si blablabla (sang ibu menyebut nama teman anaknya, saya lupa namanya), dia mah pulang sekolah teh ga suka main, dia mah rajin", suara sang ibu ketika itu cenderung keras yang hampir saya tak bisa membedakan apakah ibu itu sedang menasehati anaknya atau memarahinya. Sejenak terbayang dalam benak saya bagaimana perasaan sang anak itu ketika ibunya berkata seperti itu. Ya, anak itu memang diam tak melawan, hanya mengangguk-ngangguk saja, tapi siapa tahu mungkin dalam hatinya dia merasa dipojokkan, merasa tak diapresiasi kemampuannya, sedih. Kasihan. Juga mungkin sang ibu berkata seperti itu karena ingin memotivasi anaknya, karena bagaimanapun setiap orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan yang terbaik. Padahal ada banyak cara yang bisa si ibu lakukan untuk memotivasi anaknya tanpa membandingkannya dengan anak lain. Misalnya si ibu bisa mengiming-iminginya dengan hadiah jika si anak berhasil mengingkatkan prestasinya di lain waktu, lebih banyak meluangkan waktu untuk mengajak dan memandu anaknya belajar, dan masih banyak lagi cara orang tua mendorong anaknya tanpa cara yang malah membuat anaknya tertekan
Membanding-bandingkan anak memang sudah sangat sering kita jumpai, bahkan saya pun pernah menerima dan menelan kalimat seperti itu. Lalu apakah dengan cara itu si anak menjadi terdorong? bisa jadi, tapi tidak semua. Bahkan perlakuan seperti itu cenderung membuat si anak merasa menjadi rendah.
Lalu bagaimana menurut psikolog mengenai hal ini? menurut Kathy Seal (psikolog), "sikap suka membanding-bandingkan tersebut adalah hal yang normal", bahkan ia menyebutnya sebagai insting bertahan hidup alami manusia. Meski begitu membandingkan anak dengan waktu yang terlalu sering dapat berdampak buruk bagi si anak.


Berpengaruh pada harga diri mereka. Bisa dibayangkan ketika orang tua selalu saja membandingkan anaknya dengan yang lain. Masa kecil menjadi tak leluasa, karena merasa dirinya selalu salah, harus menjadi (yang dinilainya) sempurna seperti si A, seperti si B. Juga merasa dirinya rendah dari orang lain. Mungkin mereka tidak menjadi sombong karena merasa rendah, namun tidak berarti harus menjadikan mereka merasa tidak berharga.
Fahami bahwa setiap anak terlahir berbeda dan unik. Jika memang orang tua berharap anaknya berprestasi dalam bidang akademik namun tak sesuai kenyataan, mungkin memang bakat si anak bukan pada akademik. Tanpa kemudian menelantarkan akademik, selayaknya sebagai orang tua terus membantu si anak menemukan bakatnya yang belum ditemukannya.
Dapat menimbulkan kebencian. Ketika sang orang tua membandingkan dengan si A, bisa jadi sang anak tetap biasa saja kepada si A, atau bisa jadi sang anak menjadi kesal terhadap si A karena menganggap A lah yang menyebabkan orang tua nya tidak menghargainya.
Tetap ada di pikiran mereka. Masa kecil merupakan masa dimana setiap informasi dari luar dapat diserap dengan lebih mudah dan menempel lama daripada masa dewasa/tua. Ketika orang tua menganggap kalimat itu hanya celetukan yang tak akan berdampak pada si anak, padahal anaknya dapat selalu mengingat kalimat itu dan menempel di pikirannya yang akhirnya menjadi beban.
Anak merupakan titipan Tuhan yang harus orang tua jaga. Sekali lagi, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya, namun tidak dengan cara yang negatif. Sebaik-baiknya orang tua yang selalu memahami anak-anaknya dan bagus mendidiknya adalah tidak lain Rasulullah SAW. Wallahua'lam bishshawaab.

0 komentar:

Post a Comment