Saturday, January 24, 2015

Merpati Tahu Kemana Harus Pulang

Pernah lihat orang yang sedang menerbangkan merpati?. Di pedesaan apalagi, sering kita dapati pemandangan sekumpulan manusia yang sedang menerbangkan merpatinya masing-masing. Wushhhhh, merpati terbang di udara. Terbang lepas dari tangan-tangan pemiliknya.
Sebelum mengetahui esensi dari kegiatan tersebut, saya tak acuh. Saya kira itu kegiatan yang tak ada gunanya dan dilakukan hanya untuk kepuasan tersendiri bagi pemiliknya selaku penyuka merpati. Karena ya begitu-begitu saja, merpati terbang, pulang lagi, dilepaskan lagi, hinggap di tangan lagi, begitu saja terus-menerus.
Tapi ternyata salah, praduga saya salah.
Akhirnya saya tahu bahwa merpati diterbangkan bukan tanpa karena. Ternyata itulah cara untuk melatih insting merpati pulang ke asalnya.
Kalau diamati, merpati selalu terbang dan pulang tanpa tersesat. Katanya, menurut penelitian, merpati mampu terbang pada ketinggian 6.000 kaki atau lebih, dengan kecepatan terbang rata-rata 77,6 km/jam (ada juga yang mencapai 92,5 km/jam), tapi dia mampu kembali ke tempat asal dengan tepat. Kenapa?. Setelah dilakukan serangkaian penelitian oleh para ahli, ternyata burung merpati memiliki indera penciuman yang sangat tajam, sehingga dia dapat pulang lagi ke tempat asal yang baunya sudah melekat atau tidak asing bagi penciumannya. Selain itu, merpati juga mampu merasakan medan magnet bumi yang dimanfaatkannya untuk memandu kemana ia harus terbang dan kembali lagi. Jadi, sang pemilik merpati selalu melepaskan dan menyambutnya dengan tangan bertujuan agar insting merpati semakin kuat.
Merpati juga setia. Disaat menginjak usia dewasa, layaknya manusia, dia akan naksir merpati betina yang lalu didekatinya. Merpati dapat mengenal pasangannya masing-masing dengan tepat. Setelah mereka saling mencintai biasanya kedua merpati akan membuat sarang bersama-sama. Bahu-membahu membangun tempat tinggal untuk mereka bersama. Dan merpati jantan tidak akan berpindah pada merpati betina yang lain. Merpati jantan setia pada satu. Merpati tak kenal mendua. Mungkin ini alasan merpati dijadikan simbol kesetiaan.


Unik. Mari belajar dari burung merpati yang tahu kemana ia harus pulang. Yang tak bingung ketika mendapat perintah untuk mengirim surat dari sang majikan. Yang tak malas memanfaatkan anugerah Tuhan untuk meniti jalan kembali ke tempat tujuan. Yang tak sampai hati beralih pandangan ketika sudah bersama dengan pasangan. Sejati. Setia.

Thursday, January 22, 2015

Apa Kabar Masa Kecil Anda?


 Zaman yang semakin maju dan tak karuan ini membuat beberapa hal yang dulu akrab menemani kita saat masih kecil kini mungkin adalah hal yang sudah jarang atau bahkan tidak pernah dilirik lagi oleh anak-anak di masa sekarang. Padahal mereka lebih mendamaikan dan menyenangkan. Masa kecil kini diisi oleh hal yang dinilai lebih rumit dan tidak sesuai dengan fasenya. Anak kecil yang pantasnya menyanyi lagu-lagu anak kini lebih hafal lagu-lagu dewasa yang liriknya belum pantas dikenal oleh mereka. Yang pantasnya bermain congkak, bepe-bepean, kini sudah teralihkan oleh alat yang lebih canggih dan instan. Pada masa kini tak sedikit kita lihat anak kecil yang sudah ahli memainkan gadget.
Rasa rindu akan sesuatu di masa dulu itu yang mendorong saya menulis ini. Betapa bahagia dan menyenangkannya masa kecil saya. Masih ingatkah benda apa saja yang dulu membuat masa kecil kita menyenangkan?. Sesuatu yang dulu kita anggap biasa atau bahkan dulu kita ingin yang lebih dari itu, tapi ternyata justru mereka lah yang kita rindukan sekarang. Yuk lirik sejenak mereka yang menemani masa kecil kita:



Ice Mony. Inilah es yang populer di zamannya. Sekarang sudah tak pernah lagi saya lihat ini. Mungkin sudah tergantikan oleh jenis atau merek es yang lebih menggiurkan.




Nah ini dia salahsatu jajanan yang sering saya beli ketika sedang istirahat sekolah. Yang bisa dibuat berbagai macam bentuk itu loh. Kita bisa request mau dibuatin bentuk apa aja ke mang-mangnya. Kalau yang bentuknya ayam itu bisa ditiup dan mengeluarkan bunyi. Sekarang gulali ini entah masih ada atau tidak :(




Kalau ini es yang diserut yang sambil dibawahnya ada cetakan yang bisa membentuk sesuai keinginan kita. Bentuk cetakan yang paling saya ingat itu yang bentuknya kura-kura, karena dulu saya suka jajan yang bentuknya kura-kura hehe. Diberi warna semau kita juga.




Kalau ini mah jajanan kesukaan saya pisan. Susu ini sebenernya bisa diseduh, tapi saya lebih suka dimakan langsung tanpa diseduh. Kangen.




Mungkin dari snack ini istilah "chiki" jadi populer. Jadi chiki yang sebenar-benarnya chiki itu yang ini. Sampai sekarang mau snack merek apapun disebutnya ya chiki. Masih ingat?




Ini dia pensil favorit saya dulu. Tidak perlu nyerut. Yang isinya bisa diganti-ganti itu, yang tinggal dimasukin ke atas pensil. Tapi kalau isi pensilnya hilang satu saja, tamat.




Hayooo yang ga pernah nyoba ini dan ga tau relasi antara keduanya, coba ingat-ingat lagi :D




Sampul buku yang gambarnya seperti ini masih ada tidak ya?



Mereka mungkin terlihat biasa, tapi membuat masa kecil saya luar biasa. Apa kabar masa kecil anda? ^^



Tuesday, January 20, 2015

Menyapa Pagi


Aku terbang melayang di awang-awang memandang kabut berteman hembus angin pagi. Ini tentang syukur. Ini tentang bahagia. Yang seluruh insan berhak menjiwainya. “Hey nak, mengapa tak kau ambil wasilah yang kusodorkan ini?”. Sering terlupakan dan dianggap kurang memikat padahal buahnya nikmat. Begitupun syukur. Aku membayangkan mungkin begitu Tuhan berbisik seperti seorang dewasa yang sedang membujuk bocah. Beri aku ma’af Tuhan. Ribuan pasir pantai dan buih lautan pun masih tak seberapa dibanding nikmat-Mu yang sering aku nafikan. Tidak sakit hatikah Kau pada jiwa yang tak tahu malu ini?. Yang meminta setiap detik dan mengeluh tanpa titik. Tapi jangan, jika kau menjauh, lantas dari siapa lagi aku menimbun kekuatan selain dari Kau yang Maha Kuat. Sumbernya.
Ada lengkung bulan sabit di pagi hari. Aneh. Oh, bukan. Itu senyum orang tuaku. Bibirnya bersinar tamah menyapa sadarku. Tulus.
Hembusan angin pagi ikut serta menyapa setelah kubuka jendela dan menyapa semesta. “Selamat pagi semesta”, ku berbisik dalam hembusan angin. Biarlah itu terekam. Biarlah angin membawa suara itu mengitari alam raya. Biarkanlah dia menyampaikannya. Semesta, itu dariku, seorang yang kini sedang ditemani kepulan asap dari segelas teh hangat. Sudikah kau menemaniku menikmati ini?. Mari sini.

Diam. Jangan dulu mengganggu. Benar-benar inginku pagi ini bercumbu dengan sang pagi. Hanya aku dan nya. Dia mendamaikan. Menyejukkan. Tanpa maksud ku membenci siang. Kabut, janganlah dulu pergi. Kau indah. Menutup peliknya miniatur duniawi. Biarkan begini saja. Hanya putih bersih.
Namun akhirnya perlahan kabut menyeruwak kabur ketika sang surya menerpa. Pagi hilang berganti siang. Bulan sabit tak perlu terbalik. Siang pun menangguhkan.

Pagi, selamat berjumpa kembali esok hari. Jika Dia merestui.

Tuesday, January 13, 2015

Contact



Facebook:
Choerina Badriyah

Twitter:
@ch_rinaa

Email:
rinarain79@yahoo.com

Wednesday, January 7, 2015

Membanding-bandingkan Anak, Bolehkah?

Tak sengaja saya mendengar percakapan (baca: nasihat) seorang ibu kepada anaknya setelah si anak menerima laporan hasil nilai (raport) dari sekolahnya. Panjang lebar ibu itu menasehati anaknya, karena mungkin hasil nilai anaknya tak sesuai dengan ekspektasi si ibu. "Tuh lihat si blablabla (sang ibu menyebut nama teman anaknya, saya lupa namanya), dia mah pulang sekolah teh ga suka main, dia mah rajin", suara sang ibu ketika itu cenderung keras yang hampir saya tak bisa membedakan apakah ibu itu sedang menasehati anaknya atau memarahinya. Sejenak terbayang dalam benak saya bagaimana perasaan sang anak itu ketika ibunya berkata seperti itu. Ya, anak itu memang diam tak melawan, hanya mengangguk-ngangguk saja, tapi siapa tahu mungkin dalam hatinya dia merasa dipojokkan, merasa tak diapresiasi kemampuannya, sedih. Kasihan. Juga mungkin sang ibu berkata seperti itu karena ingin memotivasi anaknya, karena bagaimanapun setiap orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan yang terbaik. Padahal ada banyak cara yang bisa si ibu lakukan untuk memotivasi anaknya tanpa membandingkannya dengan anak lain. Misalnya si ibu bisa mengiming-iminginya dengan hadiah jika si anak berhasil mengingkatkan prestasinya di lain waktu, lebih banyak meluangkan waktu untuk mengajak dan memandu anaknya belajar, dan masih banyak lagi cara orang tua mendorong anaknya tanpa cara yang malah membuat anaknya tertekan
Membanding-bandingkan anak memang sudah sangat sering kita jumpai, bahkan saya pun pernah menerima dan menelan kalimat seperti itu. Lalu apakah dengan cara itu si anak menjadi terdorong? bisa jadi, tapi tidak semua. Bahkan perlakuan seperti itu cenderung membuat si anak merasa menjadi rendah.
Lalu bagaimana menurut psikolog mengenai hal ini? menurut Kathy Seal (psikolog), "sikap suka membanding-bandingkan tersebut adalah hal yang normal", bahkan ia menyebutnya sebagai insting bertahan hidup alami manusia. Meski begitu membandingkan anak dengan waktu yang terlalu sering dapat berdampak buruk bagi si anak.


Berpengaruh pada harga diri mereka. Bisa dibayangkan ketika orang tua selalu saja membandingkan anaknya dengan yang lain. Masa kecil menjadi tak leluasa, karena merasa dirinya selalu salah, harus menjadi (yang dinilainya) sempurna seperti si A, seperti si B. Juga merasa dirinya rendah dari orang lain. Mungkin mereka tidak menjadi sombong karena merasa rendah, namun tidak berarti harus menjadikan mereka merasa tidak berharga.
Fahami bahwa setiap anak terlahir berbeda dan unik. Jika memang orang tua berharap anaknya berprestasi dalam bidang akademik namun tak sesuai kenyataan, mungkin memang bakat si anak bukan pada akademik. Tanpa kemudian menelantarkan akademik, selayaknya sebagai orang tua terus membantu si anak menemukan bakatnya yang belum ditemukannya.
Dapat menimbulkan kebencian. Ketika sang orang tua membandingkan dengan si A, bisa jadi sang anak tetap biasa saja kepada si A, atau bisa jadi sang anak menjadi kesal terhadap si A karena menganggap A lah yang menyebabkan orang tua nya tidak menghargainya.
Tetap ada di pikiran mereka. Masa kecil merupakan masa dimana setiap informasi dari luar dapat diserap dengan lebih mudah dan menempel lama daripada masa dewasa/tua. Ketika orang tua menganggap kalimat itu hanya celetukan yang tak akan berdampak pada si anak, padahal anaknya dapat selalu mengingat kalimat itu dan menempel di pikirannya yang akhirnya menjadi beban.
Anak merupakan titipan Tuhan yang harus orang tua jaga. Sekali lagi, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya, namun tidak dengan cara yang negatif. Sebaik-baiknya orang tua yang selalu memahami anak-anaknya dan bagus mendidiknya adalah tidak lain Rasulullah SAW. Wallahua'lam bishshawaab.