Monday, February 16, 2015

Aku Pernah

Setelah turun dengan lebat, hujan diluar mulai mereda rintik-rintik. Muda-mudi mulai lagi hilir mudik. Tapi di suatu ruangan....

"Kamu pernah berpapasan di pinggir jalan raya dengan sesosok ibu yang tanpa basa-basi meminta uang dengan muka melas dihadapanmu? Aku pernah.
Pernahkah karyamu tidak diapresiasi dan dia berkata bahwa karyamu itu buatan si Fulan dan bukan buatanmu? Aku pernah.
Kamu pernah menangis ketika shalat setelah kamu mendapatkan kebahagiaan tiada tara? Aku pernah.
Kamu pernah merasa bahagia hanya karena merasakan dingin dan segarnya air wudhu di waktu shubuh? Cobalah, syukur dan bahagia ternyata tak harus dengan banyak digit angka.
Pernahkah kamu merasa rindu dengan salah satu keluargamu yang sudah meninggalkanmu terlebih dulu ke sisi-Nya? Aku setiap detik.
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu akan mati besok? Aku sedih karena aku tak sering merasakan itu.
Apakah kamu selalu bertanya-tanya mengapa kita tak merasakan goncangan padahal planet kita ini berputar dan bergerak, mengapa langit dapat terhampar diatas sana padahal tak bertiang, mengapa kita bergerak padahal manusia tak ada kabel listrik atau tempat batrainya? Aku pernah."

Dan cicak yang sedari tadi hinggap di langit-langit kamar itu enggan bergerak seolah seksama mendengar celotehan Fahda padanya.

Sunday, February 15, 2015

Manglayang on Top

Sabtu, 17 Januari 2015. Saya, Nida, Widi, Lady, Safa, dan Fatima. Enam orang perempuan berkerudung bermodal tekad (baca: nekad) memulai langkahnya dari kaki Gunung Manglayang. Untuk saya dan Safa, ini kali kedua kita "nanjak" bareng setelah berhasil menempuh jalur Gunung Papandayan yang saya telah bagikan momennya pada tulisan yang lalu.
Disana, di kaki gunung, di salah satu pohon pinus, terpampang beberapa petunjuk yang ada arah panahnya menunjukan jalur ke beberapa tempat tujuan. Kita kira untuk sampai ke puncak, diharuskan melewati batu kuda yang sebenar-benarnya batu. Jadilah kita memilih jalan menuju tempat dimana batu yang khalayak sebut Batu Kuda itu berada.
Sesampainya kita di tempat Batu Kuda, kita kebingungan karena di tempat itu tidak ada apa-apa selain batu besar yang kita yakini sebagai "Batu Kuda". Dan kita tidak tahu lagi trek mana yang harus ditempuh. Untung saja tak jauh dari tempat kita berhenti, ada seorang lelaki yang lebih pantas kita panggil "bapak" sedang terdiam seperti sedang menjalankan tugasnya menjadi kuncen, hehe. Setelah kita bertanya padanya, bapak itu lalu menjawab "seharusnya dari jalan yang pertigaan tadi neng-neng ga usah belok, lurus aja ke jalan yang nanjak, jalan sini mah muter", ooh ternyata kita menempuh jalur yang kurang tepat. Tapi tak apa-apa. Pasti selalu ada hikmah. Setelah kita dan sang bapak saling tanya jawab dan mendapatkan arahan untuk sampai ke puncak, kita melanjutkan perjalanan. Disana mulai terdengar bisikan angin yang berbentur dedaunan. Mendamaikan.
Bagaimanapun keadaannya, khawatir, lelah, takut, tapi karena kita bersama, semuanya hilang terbenam canda tawa. Bayangkan saja, kita yang hanya enam orang perempuan dan tak ada satu orang pun diantara kita yang berpengalaman menempuh puncak Manglayang, memberanikan diri mengayun langkah tanpa sosok dhahir yang lebih kuat dari kita, dengan perlengkapan dan perbekalan seadanya pula. Tapi iya, dari sini kita belajar dan jadi banyak tahu.
Sesekali kita berhenti. Berfoto. Melangkah lagi. Semakin atas, semakin atas, semakin terasa seperti sembilan puluh derajat kemiringan trek yang kita tempuh. Lelah ada, namun ketika kita berhenti sejanak dan melihat ke belakang, lelah itu terbayar oleh hamparan sebagian bumi yang kita lihat dari sana. Shubhanallaah.

Bahagia sekali rasanya ketika kita menemukan papan nama yang tertempel di pepohonan bertuliskan "puncak". Karenanya kita menyangka bahwa puncak gunung hanya tinggal beberapa langkah lagi, tak kurang dari lima puluh langka, disangkanya begitu. Tapi ternyata tidak, ternyata kita masih belum menemukan tanda-tanda bahwa kita dekat dengan puncak. Saya sempat takut kalau ternyata kita menapaki jalur yang salah. Tapi teman-teman selalu menjadi alasan untuk bisa menepis keraguan. Jalan saja terus.
Tiga kilometer, 1818 mdpl, akhirnya berhasil kita tempuh.Sudah tak peduli dengan bersih, kita langsung selonjoran di tanah. Tak jauh dari tempat kita duduk, terdapat makam. Dan dari arah yang berlawanan, terdapat plang berwarna biru menancap ke tanah bertuliskan "PUNCAK MANGLAYANG 1818 MDPL" yang sudah tercemari oleh ulah tangan yang gatal ingin mencoretinya.

Setelah beberapa saat kita "anteng" di puncak, kita turun melalui jalur yang sama. Bedanya ketika turun, sudah banyak para pendaki yang kita temui. Berbeda dengan saat kita naik, karena memang kita sengaja naik gunung masih pagi. Dan memang kata bapak yang tadi memberikan arahan ketika kita di Batu Kuda, "umumnya para pendaki memilih naik pada siang atau sore hari, apalagi kalau hari sabtu dan minggu", begitu katanya.
Sampai saat ini saya belum menemukan tempat yang lebih nyaman untuk dijadikan tempat liburan selain hijaunya dedaunan. Merdunya semilir angin dan deru ombak. Puasnya meniti puncak. Alam. Dan kalian, teman-teman.
Terima kasih. Masih banyak tempat-tempat indah yang belum kita jajaki. Semoga diridhai.