Di siang hari yang dingin kala itu, aku bergegas pulang dengan satu benda nyaris berbentuk bulat melayang diatas kepala. Air hujan masih betah menghentak tanah-tanah Jatinangor. Setelah keluar dari kawasan kampus melewati gerlam (gerbang lama), aku menyusuri beberapa roda penjual berbagai macam makanan beserta pemiliknya dan beberapa insan yang sedang menunaikan hak perut mereka. Area jalan yang secukupnya itu membuatku sesekali harus mengangkat atau memiringkan payung jika berpapasan dengan orang lain dari arah berlawanan.
Sampailah saya di pertigaan jalan raya. Banyak kendaraan-kendaraan jumbo yang lewat disana. Karena memang, katanya, jalan Sumedang itu banyak digunakan sebagai jalur alternatif lintas provinsi.
Saya, yang sedari beberapa menit yang lalu masih mematung di pinggir jalan, belum juga berani untuk melangkah melintas karena terjebak banjir dan terjebak ketakutan. Takut menyebrang, karena saat itu kendaraan sungguh banyak, belum lagi banyak motor yang ngebut karena mengejar tujuan untuk berteduh.
Tapi badai pasti berlalu, kendaraan pasti melaju, sebrang jalan masih menunggu. Akhirnya saya sampai di sebrang jalan walaupun dalam keadaan bersepatu basah. Tak apa, biar dibersihkan di kosan, daripada harus menunggu lama dipinggir jalan, kataku dalam hati.
Bagaimana tidak basah, jalan raya yang sudah bolong-bolong itu menjadi tempat genangan air jika hujan turun. Belum lagi jalan besar itu dilalui oleh banyak kendaraan besar yang jika melewati bolongan jalan akan mencipratkan air ke pinggiran jalan.
Bagaimana tidak basah, jalan raya yang sudah bolong-bolong itu menjadi tempat genangan air jika hujan turun. Belum lagi jalan besar itu dilalui oleh banyak kendaraan besar yang jika melewati bolongan jalan akan mencipratkan air ke pinggiran jalan.
Setelah berhasil melewati genangan air beserta benda-benda yang melaju kencang, saya menyusuri jalan yang lebih lengang dari sebelumnya. Hingga, kenapa tidak dibuat jembatan penyeberangan saja disana?. Banyak para pelajar yang menyeberangi jalan itu ketika pulang pergi ke kampus. Entah saya yang belum faham akan sebab kenapa pengurus setempat tidak menyediakan jembatan penyeberang. Entah apa.