Setelah turun dengan lebat, hujan diluar mulai mereda rintik-rintik. Muda-mudi mulai lagi hilir mudik. Tapi di suatu ruangan....
"Kamu pernah berpapasan di pinggir jalan raya dengan sesosok ibu yang tanpa basa-basi meminta uang dengan muka melas dihadapanmu? Aku pernah.
Pernahkah karyamu tidak diapresiasi dan dia berkata bahwa karyamu itu buatan si Fulan dan bukan buatanmu? Aku pernah.
Kamu pernah menangis ketika shalat setelah kamu mendapatkan kebahagiaan tiada tara? Aku pernah.
Kamu pernah merasa bahagia hanya karena merasakan dingin dan segarnya air wudhu di waktu shubuh? Cobalah, syukur dan bahagia ternyata tak harus dengan banyak digit angka.
Pernahkah kamu merasa rindu dengan salah satu keluargamu yang sudah meninggalkanmu terlebih dulu ke sisi-Nya? Aku setiap detik.
Pernahkah kamu merasa bahwa kamu akan mati besok? Aku sedih karena aku tak sering merasakan itu.
Apakah kamu selalu bertanya-tanya mengapa kita tak merasakan goncangan padahal planet kita ini berputar dan bergerak, mengapa langit dapat terhampar diatas sana padahal tak bertiang, mengapa kita bergerak padahal manusia tak ada kabel listrik atau tempat batrainya? Aku pernah."
Dan cicak yang sedari tadi hinggap di langit-langit kamar itu enggan bergerak seolah seksama mendengar celotehan Fahda padanya.
Sabtu, 17 Januari 2015. Saya, Nida, Widi, Lady, Safa, dan Fatima. Enam orang perempuan berkerudung bermodal tekad (baca: nekad) memulai langkahnya dari kaki Gunung Manglayang. Untuk saya dan Safa, ini kali kedua kita "nanjak" bareng setelah berhasil menempuh jalur Gunung Papandayan yang saya telah bagikan momennya pada tulisan yang lalu.
Disana, di kaki gunung, di salah satu pohon pinus, terpampang beberapa petunjuk yang ada arah panahnya menunjukan jalur ke beberapa tempat tujuan. Kita kira untuk sampai ke puncak, diharuskan melewati batu kuda yang sebenar-benarnya batu. Jadilah kita memilih jalan menuju tempat dimana batu yang khalayak sebut Batu Kuda itu berada.
Sesampainya kita di tempat Batu Kuda, kita kebingungan karena di tempat itu tidak ada apa-apa selain batu besar yang kita yakini sebagai "Batu Kuda". Dan kita tidak tahu lagi trek mana yang harus ditempuh. Untung saja tak jauh dari tempat kita berhenti, ada seorang lelaki yang lebih pantas kita panggil "bapak" sedang terdiam seperti sedang menjalankan tugasnya menjadi kuncen, hehe. Setelah kita bertanya padanya, bapak itu lalu menjawab "seharusnya dari jalan yang pertigaan tadi neng-neng ga usah belok, lurus aja ke jalan yang nanjak, jalan sini mah muter", ooh ternyata kita menempuh jalur yang kurang tepat. Tapi tak apa-apa. Pasti selalu ada hikmah. Setelah kita dan sang bapak saling tanya jawab dan mendapatkan arahan untuk sampai ke puncak, kita melanjutkan perjalanan. Disana mulai terdengar bisikan angin yang berbentur dedaunan. Mendamaikan.
Bagaimanapun keadaannya, khawatir, lelah, takut, tapi karena kita bersama, semuanya hilang terbenam canda tawa. Bayangkan saja, kita yang hanya enam orang perempuan dan tak ada satu orang pun diantara kita yang berpengalaman menempuh puncak Manglayang, memberanikan diri mengayun langkah tanpa sosok dhahir yang lebih kuat dari kita, dengan perlengkapan dan perbekalan seadanya pula. Tapi iya, dari sini kita belajar dan jadi banyak tahu.
Sesekali kita berhenti. Berfoto. Melangkah lagi. Semakin atas, semakin atas, semakin terasa seperti sembilan puluh derajat kemiringan trek yang kita tempuh. Lelah ada, namun ketika kita berhenti sejanak dan melihat ke belakang, lelah itu terbayar oleh hamparan sebagian bumi yang kita lihat dari sana. Shubhanallaah.
Bahagia sekali rasanya ketika kita menemukan papan nama yang tertempel di pepohonan bertuliskan "puncak". Karenanya kita menyangka bahwa puncak gunung hanya tinggal beberapa langkah lagi, tak kurang dari lima puluh langka, disangkanya begitu. Tapi ternyata tidak, ternyata kita masih belum menemukan tanda-tanda bahwa kita dekat dengan puncak. Saya sempat takut kalau ternyata kita menapaki jalur yang salah. Tapi teman-teman selalu menjadi alasan untuk bisa menepis keraguan. Jalan saja terus.
Tiga kilometer, 1818 mdpl, akhirnya berhasil kita tempuh.Sudah tak peduli dengan bersih, kita langsung selonjoran di tanah. Tak jauh dari tempat kita duduk, terdapat makam. Dan dari arah yang berlawanan, terdapat plang berwarna biru menancap ke tanah bertuliskan "PUNCAK MANGLAYANG 1818 MDPL" yang sudah tercemari oleh ulah tangan yang gatal ingin mencoretinya.
Setelah beberapa saat kita "anteng" di puncak, kita turun melalui jalur yang sama. Bedanya ketika turun, sudah banyak para pendaki yang kita temui. Berbeda dengan saat kita naik, karena memang kita sengaja naik gunung masih pagi. Dan memang kata bapak yang tadi memberikan arahan ketika kita di Batu Kuda, "umumnya para pendaki memilih naik pada siang atau sore hari, apalagi kalau hari sabtu dan minggu", begitu katanya.
Sampai saat ini saya belum menemukan tempat yang lebih nyaman untuk dijadikan tempat liburan selain hijaunya dedaunan. Merdunya semilir angin dan deru ombak. Puasnya meniti puncak. Alam. Dan kalian, teman-teman.
Terima kasih. Masih banyak tempat-tempat indah yang belum kita jajaki. Semoga diridhai.
Pernah lihat orang yang sedang menerbangkan merpati?. Di pedesaan apalagi, sering kita dapati pemandangan sekumpulan manusia yang sedang menerbangkan merpatinya masing-masing. Wushhhhh, merpati terbang di udara. Terbang lepas dari tangan-tangan pemiliknya.
Sebelum mengetahui esensi dari kegiatan tersebut, saya tak acuh. Saya kira itu kegiatan yang tak ada gunanya dan dilakukan hanya untuk kepuasan tersendiri bagi pemiliknya selaku penyuka merpati. Karena ya begitu-begitu saja, merpati terbang, pulang lagi, dilepaskan lagi, hinggap di tangan lagi, begitu saja terus-menerus.
Tapi ternyata salah, praduga saya salah.
Akhirnya saya tahu bahwa merpati diterbangkan bukan tanpa karena. Ternyata itulah cara untuk melatih insting merpati pulang ke asalnya.
Kalau diamati, merpati selalu terbang dan pulang tanpa tersesat. Katanya, menurut penelitian, merpati mampu terbang pada ketinggian 6.000 kaki atau lebih, dengan kecepatan terbang rata-rata 77,6 km/jam (ada juga yang mencapai 92,5 km/jam), tapi dia mampu kembali ke tempat asal dengan tepat. Kenapa?. Setelah dilakukan serangkaian penelitian oleh para ahli, ternyata burung merpati memiliki indera penciuman yang sangat tajam, sehingga dia dapat pulang lagi ke tempat asal yang baunya sudah melekat atau tidak asing bagi penciumannya. Selain itu, merpati juga mampu merasakan medan magnet bumi yang dimanfaatkannya untuk memandu kemana ia harus terbang dan kembali lagi. Jadi, sang pemilik merpati selalu melepaskan dan menyambutnya dengan tangan bertujuan agar insting merpati semakin kuat.
Merpati juga setia. Disaat menginjak usia dewasa, layaknya manusia, dia akan naksir merpati betina yang lalu didekatinya. Merpati dapat mengenal pasangannya masing-masing dengan tepat. Setelah mereka saling mencintai biasanya kedua merpati akan membuat sarang bersama-sama. Bahu-membahu membangun tempat tinggal untuk mereka bersama. Dan merpati jantan tidak akan berpindah pada merpati betina yang lain. Merpati jantan setia pada satu. Merpati tak kenal mendua. Mungkin ini alasan merpati dijadikan simbol kesetiaan.
Unik. Mari belajar dari burung merpati yang tahu kemana ia harus pulang. Yang tak bingung ketika mendapat perintah untuk mengirim surat dari sang majikan. Yang tak malas memanfaatkan anugerah Tuhan untuk meniti jalan kembali ke tempat tujuan. Yang tak sampai hati beralih pandangan ketika sudah bersama dengan pasangan. Sejati. Setia.
Zaman yang semakin maju dan tak karuan ini membuat beberapa hal yang dulu akrab menemani kita saat masih kecil kini mungkin adalah hal yang sudah jarang atau bahkan tidak pernah dilirik lagi oleh anak-anak di masa sekarang. Padahal mereka lebih mendamaikan dan menyenangkan. Masa kecil kini diisi oleh hal yang dinilai lebih rumit dan tidak sesuai dengan fasenya. Anak kecil yang pantasnya menyanyi lagu-lagu anak kini lebih hafal lagu-lagu dewasa yang liriknya belum pantas dikenal oleh mereka. Yang pantasnya bermain congkak, bepe-bepean, kini sudah teralihkan oleh alat yang lebih canggih dan instan. Pada masa kini tak sedikit kita lihat anak kecil yang sudah ahli memainkan gadget.
Rasa rindu akan sesuatu di masa dulu itu yang mendorong saya menulis ini. Betapa bahagia dan menyenangkannya masa kecil saya. Masih ingatkah benda apa saja yang dulu membuat masa kecil kita menyenangkan?. Sesuatu yang dulu kita anggap biasa atau bahkan dulu kita ingin yang lebih dari itu, tapi ternyata justru mereka lah yang kita rindukan sekarang. Yuk lirik sejenak mereka yang menemani masa kecil kita:
Ice Mony. Inilah es yang populer di zamannya. Sekarang sudah tak pernah lagi saya lihat ini. Mungkin sudah tergantikan oleh jenis atau merek es yang lebih menggiurkan.
Nah ini dia salahsatu jajanan yang sering saya beli ketika sedang istirahat sekolah. Yang bisa dibuat berbagai macam bentuk itu loh. Kita bisa request mau dibuatin bentuk apa aja ke mang-mangnya. Kalau yang bentuknya ayam itu bisa ditiup dan mengeluarkan bunyi. Sekarang gulali ini entah masih ada atau tidak :(
Kalau ini es yang diserut yang sambil dibawahnya ada cetakan yang bisa membentuk sesuai keinginan kita. Bentuk cetakan yang paling saya ingat itu yang bentuknya kura-kura, karena dulu saya suka jajan yang bentuknya kura-kura hehe. Diberi warna semau kita juga.
Kalau ini mah jajanan kesukaan saya pisan. Susu ini sebenernya bisa diseduh, tapi saya lebih suka dimakan langsung tanpa diseduh. Kangen.
Mungkin dari snack ini istilah "chiki" jadi populer. Jadi chiki yang sebenar-benarnya chiki itu yang ini. Sampai sekarang mau snack merek apapun disebutnya ya chiki. Masih ingat?
Ini dia pensil favorit saya dulu. Tidak perlu nyerut. Yang isinya bisa diganti-ganti itu, yang tinggal dimasukin ke atas pensil. Tapi kalau isi pensilnya hilang satu saja, tamat.
Hayooo yang ga pernah nyoba ini dan ga tau relasi antara keduanya, coba ingat-ingat lagi :D
Sampul buku yang gambarnya seperti ini masih ada tidak ya?
Mereka mungkin terlihat biasa, tapi membuat masa kecil saya luar biasa. Apa kabar masa kecil anda? ^^
Aku
terbang melayang di awang-awang memandang kabut berteman hembus angin pagi. Ini
tentang syukur. Ini tentang bahagia. Yang seluruh insan berhak menjiwainya. “Hey
nak, mengapa tak kau ambil wasilah yang kusodorkan ini?”. Sering terlupakan dan
dianggap kurang memikat padahal buahnya nikmat. Begitupun syukur. Aku membayangkan mungkin
begitu Tuhan berbisik seperti seorang dewasa yang sedang membujuk bocah. Beri
aku ma’af Tuhan. Ribuan pasir pantai dan buih lautan pun masih tak seberapa dibanding
nikmat-Mu yang sering aku nafikan. Tidak sakit hatikah Kau pada jiwa yang tak
tahu malu ini?. Yang meminta setiap detik dan mengeluh tanpa titik. Tapi
jangan, jika kau menjauh, lantas dari siapa lagi aku menimbun kekuatan selain
dari Kau yang Maha Kuat. Sumbernya.
Ada
lengkung bulan sabit di pagi hari. Aneh. Oh, bukan. Itu senyum orang tuaku. Bibirnya
bersinar tamah menyapa sadarku. Tulus.
Hembusan angin pagi ikut serta menyapa
setelah kubuka jendela dan menyapa semesta. “Selamat pagi semesta”, ku berbisik
dalam hembusan angin. Biarlah itu terekam. Biarlah angin membawa suara itu
mengitari alam raya. Biarkanlah dia menyampaikannya. Semesta, itu dariku,
seorang yang kini sedang ditemani kepulan asap dari segelas teh hangat. Sudikah
kau menemaniku menikmati ini?. Mari sini.
Diam.
Jangan dulu mengganggu. Benar-benar inginku pagi ini bercumbu dengan sang pagi.
Hanya aku dan nya. Dia mendamaikan. Menyejukkan. Tanpa maksud ku membenci
siang. Kabut, janganlah dulu pergi. Kau indah. Menutup peliknya miniatur
duniawi. Biarkan begini saja. Hanya putih bersih.
Namun
akhirnya perlahan kabut menyeruwak kabur ketika sang surya menerpa. Pagi hilang
berganti siang. Bulan sabit tak perlu terbalik. Siang pun menangguhkan.
Pagi,
selamat berjumpa kembali esok hari. Jika Dia merestui.
Tak sengaja saya mendengar percakapan (baca: nasihat) seorang ibu kepada anaknya setelah si anak menerima laporan hasil nilai (raport) dari sekolahnya. Panjang lebar ibu itu menasehati anaknya, karena mungkin hasil nilai anaknya tak sesuai dengan ekspektasi si ibu. "Tuh lihat si blablabla (sang ibu menyebut nama teman anaknya, saya lupa namanya), dia mah pulang sekolah teh ga suka main, dia mah rajin", suara sang ibu ketika itu cenderung keras yang hampir saya tak bisa membedakan apakah ibu itu sedang menasehati anaknya atau memarahinya. Sejenak terbayang dalam benak saya bagaimana perasaan sang anak itu ketika ibunya berkata seperti itu. Ya, anak itu memang diam tak melawan, hanya mengangguk-ngangguk saja, tapi siapa tahu mungkin dalam hatinya dia merasa dipojokkan, merasa tak diapresiasi kemampuannya, sedih. Kasihan. Juga mungkin sang ibu berkata seperti itu karena ingin memotivasi anaknya, karena bagaimanapun setiap orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan yang terbaik. Padahal ada banyak cara yang bisa si ibu lakukan untuk memotivasi anaknya tanpa membandingkannya dengan anak lain. Misalnya si ibu bisa mengiming-iminginya dengan hadiah jika si anak berhasil mengingkatkan prestasinya di lain waktu, lebih banyak meluangkan waktu untuk mengajak dan memandu anaknya belajar, dan masih banyak lagi cara orang tua mendorong anaknya tanpa cara yang malah membuat anaknya tertekan
Membanding-bandingkan anak memang sudah sangat sering kita jumpai, bahkan saya pun pernah menerima dan menelan kalimat seperti itu. Lalu apakah dengan cara itu si anak menjadi terdorong? bisa jadi, tapi tidak semua. Bahkan perlakuan seperti itu cenderung membuat si anak merasa menjadi rendah.
Lalu bagaimana menurut psikolog mengenai hal ini? menurut Kathy Seal (psikolog), "sikap suka membanding-bandingkan tersebut adalah hal yang normal", bahkan ia menyebutnya sebagai insting bertahan hidup alami manusia. Meski begitu membandingkan anak dengan waktu yang terlalu sering dapat berdampak buruk bagi si anak.
Berpengaruh pada harga diri mereka. Bisa dibayangkan ketika orang tua selalu saja membandingkan anaknya dengan yang lain. Masa kecil menjadi tak leluasa, karena merasa dirinya selalu salah, harus menjadi (yang dinilainya) sempurna seperti si A, seperti si B. Juga merasa dirinya rendah dari orang lain. Mungkin mereka tidak menjadi sombong karena merasa rendah, namun tidak berarti harus menjadikan mereka merasa tidak berharga.
Fahami bahwa setiap anak terlahir berbeda dan unik. Jika memang orang tua berharap anaknya berprestasi dalam bidang akademik namun tak sesuai kenyataan, mungkin memang bakat si anak bukan pada akademik. Tanpa kemudian menelantarkan akademik, selayaknya sebagai orang tua terus membantu si anak menemukan bakatnya yang belum ditemukannya.
Dapat menimbulkan kebencian. Ketika sang orang tua membandingkan dengan si A, bisa jadi sang anak tetap biasa saja kepada si A, atau bisa jadi sang anak menjadi kesal terhadap si A karena menganggap A lah yang menyebabkan orang tua nya tidak menghargainya.
Tetap ada di pikiran mereka. Masa kecil merupakan masa dimana setiap informasi dari luar dapat diserap dengan lebih mudah dan menempel lama daripada masa dewasa/tua. Ketika orang tua menganggap kalimat itu hanya celetukan yang tak akan berdampak pada si anak, padahal anaknya dapat selalu mengingat kalimat itu dan menempel di pikirannya yang akhirnya menjadi beban.
Anak merupakan titipan Tuhan yang harus orang tua jaga. Sekali lagi, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya, namun tidak dengan cara yang negatif. Sebaik-baiknya orang tua yang selalu memahami anak-anaknya dan bagus mendidiknya adalah tidak lain Rasulullah SAW. Wallahua'lam bishshawaab.
Hari kemarin (21/11) saya berkesempatan untuk menghadiri suatu majlis ilmu yang diadakan oleh HIMA FTG (Fakultas Tehnik Geologi) Unpad bertempat di Gedung Aula Unpad Dipatiukur bersama Asri, Ecin, Rahma, Sopi (mahasiswi sastra arab Unpad), Tia (mahasiswi matematika Unpad) dan Maya (mahasiswi tafsir hadits UIN Bandung). Di acara pertama setelah opening ceremony, saya dipertemukan kembali dengan seorang trainer muda nan menginspirasi, Asep Wahidin Al Mufiid, sosok yang bersahaja, luar biasa perjuangannya, terpancar jelas karisma positifnya, potential booster, dialah trainer muda Indonesia. Sosok yang akrab disapa 'kang Asdin' ini memberikan berbagai energi penggugah jiwa di setiap kata yang dia lontarkan selama berdiri di depan ratusan peserta. Diantaranya dia mengingatkan saya tentang suatu kisah pada zaman Rasulullah dan para sahabat; ketika pada suatu waktu Rasulullah dan para sahabatnya sedang berkumpul, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "taukah kalian siapakah makhluk yang paling mulia dari golongan ciptaan-Nya?". Sejenak para sahabat diam, lalu menjawablah salah seorang diantara sahabat "malaikat ya Rasulullah". Rasulullah menanggapi "benar, malaikat adalah makhluk-Nya yang ta'at dan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka jelaslah bahwa malaikat itu mulia, tapi taukah kalian bahwa bukan itu yang aku maksud". Lalu seorang yang lain menjawab "para nabi ya Rasulullah". Rasulullah berkata "benar, para nabi adalah ciptaan-Nya yang selalu menyeru manusia untuk mengikuti jalan agama yang benar, jelaslah para nabi itu mulia, tapi bukan itu yang aku maksud wahai para sahabat". Lantas para sahabat bertanya "lalu siapakah makhluk mulia yang engkau maksud wahai Rasulullah?". Rasulullah menjawab "makhluk ciptaan Allah yang mulia adalah ummatku, ummatku yang hidup setelah aku wafat, ummatku yang hidup dalam keta'atannya kepada Sang Pencipta setelah aku tiada di muka bumi". Tidakkah kau bangga menjadi ummat Rasulullah kekasih Allah?
Ini memang kali kedua saya melihatnya setelah masa orientasi Fakultas Ilmu Budaya Unpad ketika itu. Penampilannya memang selalu memukau.
Setelah kurang lebih kang Asdin selesai menyebarkan energi dalam kalimat semangat mudanya, master of ceremony memberikan waktu istirahat kepada para peserta. Disaat yang lain istirahat, saya ditemani seorang teman menghampiri motivator tadi ke pinggir panggung untuk berphoto dengan trainer muda itu, saya kagum padanya.
Coffe break berakhir. Sambil menunggu peserta lain kembali memenuhi aula, peserta disajikan hiburan nasyid (saya lupa namanya) yang personilnya tiada lain mahasiswa Unpad.
Tibalah waktunya kami menerima "hadiah" kedua dari sosok menginspirasi lainnya.Birrul Qadriyah, mahasiswi berprestasi UGM 2013 yang sekaligus menjadi duta beasiswa bidik misi 2013 berhasil membuat mata, mulut, dan hati saya terpana akan pembuktiannya yang luar biasa. Dia menjadi pemateri kedua di acara tersebut. Mba Birrul menekankan bahwa kita harus menuliskan mimpi-mimpi kita. Tak sekedar menuliskan, tapi lalu mewujudkan. Mba Birrul memang luar biasa. Muslimah shalihah, fiddunia najaah, ahlul jannah. In syaa Allah.
Video yang ditayangkan sebelum mba Birrul naik panggung.
Sayangnya mba Birrul hanya tak sampai sejam memberikan "wejangannya" kepada para peserta karena mba Birrul harus menghadiri majlis di tempat lain dan mengejar jadwal kereta untuk pulang ke Yogyakarta.
Insan yang Dia kirimkan sebagai wasilah penggugah potensi untuk saya tak sampai disini. Tau Ahmad Rifa'i Rif'an? Ya, dia menjadi "guru" terakhir saya dalam acara kemarin. Jika pemateri sebelumnya lebih tegas bicaranya, mantap body languagenya, kang Ahmad hadir di depan dengan kesederhanaan dan sifat humoris namun tetap menginspirasi para peserta. Alumni mahasiswa teknik mesin ITS ini mengarahkan peserta untuk memiliki sikap produktif. Menurutnya produktif mempunyai pengertian menghasilkan banyak karya dalam waktu sesingkat mungkin. Kang Ahmad yang merupakan penulis buku Tuhan Maaf Kami Sedang Sibuk ini memberikan resep-resepnya untuk menjadi penguasa waktu, jangan sampai menjadi manusia yang dikuasai waktu, diantaranya:
Buat jadwal kegiatan harian
Setiap pagi, tulis aktivitas prioritas harian
Sedia buku kemanapun pergi
Hindari tontonan mubadzir
Hapus musik cengeng dari hp dan laptop
Dia juga menekankan bahwa kita harus menuliskan apa yang ingin kita capai. Sering kita sebut "mimpi". Karena menurutnya tulisan mimpi yang kita tuliskan itu adalah do'a. Semakin kita sering melihat tulisan itu kita akan tergugah, karena sesuatu yang sering kita lihat dapat merangsang hormon yang membuat kita ingin beraction untuk mewujudkannya. Tulis!
Dia juga bercerita tentang jalannya bertemu dengan bidadari penyempurna setengah agamanya. Dia menuliskan target menikah pada umur 24 tahun. Namun ketika umurnya 23 tahun Allah belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan segera bertemu dengan jodohnya. Dia sempat berputus asa, gamang (kalau bahasa ABGnya "galau" mungkin ya) hehe dan pasrah kepada Allah sembari berdo'a "Ya Allah saya pasrahkan perkara ini kepada-Mu, saya yakin akan bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat, dan saya meminta yang terbaik menurut-Mu". Beberapa hari setelahnya kang Ahmad menerima pesan dari rekan kerjanya yang memberitahukan bahwa kang Ahmad harus menjalankan tugas bedah buku roadshow di daerahnya. Sampai tibalah waktunya dia menjadi pemateri bedah buku di Gramedia di daerahnya. Dan pesertanya shubhanallah sungguh sangat banyaaak sekali. Bisa kamu tebak berapa orang?
Satu orang. Ya, hanya satu orang. Dan satu orang peserta itulah yang sekarang tinggal satu atap dengan kang Ahmad. Kurang unik bagaimana skenario Allah (?). Jadi santai aja, mblo :D
Pada detik-detik akhir sebelum kang Ahmad undur diri dihadapan peserta kemarin, dia memberikan closing statement; "Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hukum taklifi itu ada lima, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Begitu pula dengan keadaan pemuda sekarang, pemuda sekarang tergolong pada lima; pemuda wajib yaitu pemuda yang ketika kehadirannya memberikan manfa'at dan tidak bisa jika dia tidak hadir, pemuda sunnah yaitu pemuda yang hadirnya memberi manfa'at namun ketidakhadirannya tidak apa-apa karena ada yang menggantikan, pemuda mubah adalah ada atau tidak adanya itu sama saja dan tidak berkontribusi apa-apa, pemuda makruh yaitu pemuda yang ketidak adaannya lebih menguntungkan dari pada jika pemuda itu ada, dan yang terakhir yang paling parah pemuda haram yaitu pemuda yang hidupnya selalu merugikan orang lain dan sama sekali tak memberikan manfa'at."
Tak lama setelah pemateri turun dari panggung, saya keluar dari aula untuk segera pulang ke Jatinangor karena senja telah sampai di penghujung garisnya.
Karena penjuru bumi Allah yang mana saja dapat dijadikan majlis ilmu.
Kapan kita mati?. Bukan. Bukan saya ingin anda atau saya segera mati. Coba renungkan ketika di dalam benak kita terbesit pertanyaan tersebut. Lalu, sudah berapa banyak bekal yang kita siapkan untuk menghadapinya? Sudah siapkah ketika pagi hari kita masih sehat bugar padahal malaikat maut sedang bersiap mencabut nyawa kita?
Karena ajal tak mengenal sehat atau sakit, tak mengenal tua atau muda, tak mengenal kaya atau miskin, tak mengenal gila atau waras, semua bergiliran tanpa pengklasifikasian hal.
Siapa sangka jika Pak Ipin yang baru saja pulang bermain badminton di gor dekat rumahnya tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Siapa sangka bapak tukang warteg dekat kosan saya menemui ajalnya sepulang belanja dari pasar.
Allah. Segalanya memang mudah bagi-Nya untuk menentukan kehidupan aktor-Nya di dunia. Dalam sekejap. "Tak semudah membalikan telapak tangan" tak berlaku bagi Sang Maha Raja. Kun!! Fayakun.
Pasti. Akan tiba suatu hari kita harus kembali "pulang". Semuanya akan kembali. Akankah sembari tersenyum tatkala yang ditinggalkan menangis. Atau sembari menangis dan yang lain tersenyum ketika kita "pulang".
Terkadang masih saja merasa percaya diri bahwa kita akan masuk syurga, sementara khilaf dan dosa menggunung hampir menyentuh langit. Masih saja merasa bahwa ajal masih jauh, padahal dia datang tak seperti hujan yang memperlihatkan mendungnya terlebih dahulu.