Saturday, November 22, 2014

Maraton Potential Booster

Hari kemarin (21/11) saya berkesempatan untuk menghadiri suatu majlis ilmu yang diadakan oleh HIMA FTG (Fakultas Tehnik Geologi) Unpad bertempat di Gedung Aula Unpad Dipatiukur bersama Asri, Ecin, Rahma, Sopi (mahasiswi sastra arab Unpad), Tia (mahasiswi matematika Unpad) dan Maya (mahasiswi tafsir hadits UIN Bandung). Di acara pertama setelah opening ceremony, saya dipertemukan kembali dengan seorang trainer muda nan menginspirasi, Asep Wahidin Al Mufiid, sosok yang bersahaja, luar biasa perjuangannya, terpancar jelas karisma positifnya, potential booster, dialah trainer muda Indonesia. Sosok yang akrab disapa 'kang Asdin' ini memberikan berbagai energi penggugah jiwa di setiap kata yang dia lontarkan selama berdiri di depan ratusan peserta. Diantaranya dia mengingatkan saya tentang suatu kisah pada zaman Rasulullah dan para sahabat; ketika pada suatu waktu Rasulullah dan para sahabatnya sedang berkumpul, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "taukah kalian siapakah makhluk yang paling mulia dari golongan ciptaan-Nya?". Sejenak para sahabat diam, lalu menjawablah salah seorang diantara sahabat "malaikat ya Rasulullah". Rasulullah menanggapi "benar, malaikat adalah makhluk-Nya yang ta'at dan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka jelaslah bahwa malaikat itu mulia, tapi taukah kalian bahwa bukan itu yang aku maksud". Lalu seorang yang lain menjawab "para nabi ya Rasulullah". Rasulullah berkata "benar, para nabi adalah ciptaan-Nya yang selalu menyeru manusia untuk mengikuti jalan agama yang benar, jelaslah para nabi itu mulia, tapi bukan itu yang aku maksud wahai para sahabat". Lantas para sahabat bertanya "lalu siapakah makhluk mulia yang engkau maksud wahai Rasulullah?". Rasulullah menjawab "makhluk ciptaan Allah yang mulia adalah ummatku, ummatku yang hidup setelah aku wafat, ummatku yang hidup dalam keta'atannya kepada Sang Pencipta setelah aku tiada di muka bumi". Tidakkah kau bangga menjadi ummat Rasulullah kekasih Allah?
Ini memang kali kedua saya melihatnya setelah masa orientasi Fakultas Ilmu Budaya Unpad ketika itu. Penampilannya memang selalu memukau.
Setelah kurang lebih kang Asdin selesai menyebarkan energi dalam kalimat semangat mudanya, master of ceremony memberikan waktu istirahat kepada para peserta. Disaat yang lain istirahat, saya ditemani seorang teman menghampiri motivator tadi ke pinggir panggung untuk berphoto dengan trainer muda itu, saya kagum padanya.
Coffe break berakhir. Sambil menunggu peserta lain kembali memenuhi aula, peserta disajikan hiburan nasyid (saya lupa namanya) yang personilnya tiada lain mahasiswa Unpad.
Tibalah waktunya kami menerima "hadiah" kedua dari sosok menginspirasi lainnya. Birrul Qadriyah, mahasiswi berprestasi UGM 2013 yang sekaligus menjadi duta beasiswa bidik misi 2013 berhasil membuat mata, mulut, dan hati saya terpana akan pembuktiannya yang luar biasa. Dia menjadi pemateri kedua di acara tersebut. Mba Birrul menekankan bahwa kita harus menuliskan mimpi-mimpi kita. Tak sekedar menuliskan, tapi lalu mewujudkan. Mba Birrul memang luar biasa. Muslimah shalihah, fiddunia najaah, ahlul jannah. In syaa Allah.



  Video yang ditayangkan sebelum mba Birrul naik panggung.



Sayangnya mba Birrul hanya tak sampai sejam memberikan "wejangannya" kepada para peserta karena mba Birrul harus menghadiri majlis di tempat lain dan mengejar jadwal kereta untuk pulang ke Yogyakarta.
Insan yang Dia kirimkan sebagai wasilah penggugah potensi untuk saya tak sampai disini. Tau Ahmad Rifa'i Rif'an? Ya, dia menjadi "guru" terakhir saya dalam acara kemarin. Jika pemateri sebelumnya lebih tegas bicaranya, mantap body languagenya, kang Ahmad hadir di depan dengan kesederhanaan dan sifat humoris namun tetap menginspirasi para peserta. Alumni mahasiswa teknik mesin ITS ini mengarahkan peserta untuk memiliki sikap produktif. Menurutnya produktif mempunyai pengertian menghasilkan banyak karya dalam waktu sesingkat mungkin. Kang Ahmad yang merupakan penulis buku Tuhan Maaf Kami Sedang Sibuk ini memberikan resep-resepnya untuk menjadi penguasa waktu, jangan sampai menjadi manusia yang dikuasai waktu, diantaranya:
  • Buat jadwal kegiatan harian
  • Setiap pagi, tulis aktivitas prioritas harian
  • Sedia buku kemanapun pergi
  • Hindari tontonan mubadzir
  • Hapus musik cengeng dari hp dan laptop
Dia juga menekankan bahwa kita harus menuliskan apa yang ingin kita capai. Sering kita sebut "mimpi". Karena menurutnya tulisan mimpi yang kita tuliskan itu adalah do'a. Semakin kita sering melihat tulisan itu kita akan tergugah, karena sesuatu yang sering kita lihat dapat merangsang hormon yang membuat kita ingin beraction untuk mewujudkannya. Tulis!
Dia juga bercerita tentang jalannya bertemu dengan bidadari penyempurna setengah agamanya. Dia menuliskan target menikah pada umur 24 tahun. Namun ketika umurnya 23 tahun Allah belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan segera bertemu dengan jodohnya. Dia sempat berputus asa, gamang (kalau bahasa ABGnya "galau" mungkin ya) hehe dan pasrah kepada Allah sembari berdo'a "Ya Allah saya pasrahkan perkara ini kepada-Mu, saya yakin akan bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat, dan saya meminta yang terbaik menurut-Mu". Beberapa hari setelahnya kang Ahmad menerima pesan dari rekan kerjanya yang memberitahukan bahwa kang Ahmad harus menjalankan tugas bedah buku roadshow di daerahnya. Sampai tibalah waktunya dia menjadi pemateri bedah buku di Gramedia di daerahnya. Dan pesertanya shubhanallah sungguh sangat banyaaak sekali. Bisa kamu tebak berapa orang?
Satu orang. Ya, hanya satu orang. Dan satu orang peserta itulah yang sekarang tinggal satu atap dengan kang Ahmad. Kurang unik bagaimana skenario Allah (?). Jadi santai aja, mblo :D
Pada detik-detik akhir sebelum kang Ahmad undur diri dihadapan peserta kemarin, dia memberikan closing statement; "Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hukum taklifi itu ada lima, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Begitu pula dengan keadaan pemuda sekarang, pemuda sekarang tergolong pada lima; pemuda wajib yaitu pemuda yang ketika kehadirannya memberikan manfa'at dan tidak bisa jika dia tidak hadir, pemuda sunnah yaitu pemuda yang hadirnya memberi manfa'at namun ketidakhadirannya tidak apa-apa karena ada yang menggantikan, pemuda mubah adalah ada atau tidak adanya itu sama saja dan tidak berkontribusi apa-apa, pemuda makruh yaitu pemuda yang ketidak adaannya lebih menguntungkan dari pada jika pemuda itu ada, dan yang terakhir yang paling parah pemuda haram yaitu pemuda yang hidupnya selalu merugikan orang lain dan sama sekali tak memberikan manfa'at."
Tak lama setelah pemateri turun dari panggung, saya keluar dari aula untuk segera pulang ke Jatinangor karena senja telah sampai di penghujung garisnya.


Karena penjuru bumi Allah yang mana saja dapat dijadikan majlis ilmu.
Terimakasih kang Asdin.
Terimakasih mba Birrul.
Terimakasih kang Ahmad.

Terimakasih Semesta:)



Saturday, November 15, 2014

Tanda Seru (!)

Kau bilang ingin membuktikan pada Semesta.
Tapi tak berintegrasi dengan aksi nyata.

Kau bilang ingin bahagiakan orang tua.
Tapi kau terus menerus manja.

Kau bilang ingin menjadi yang shalehah.
Tapi kau ulang lagi dan lagi khilaf dan salah.

Kau bilang sukses itu harus.
Tapi pesimis jika alur tak berjalan mulus.


Kau berkata. Kau tak melakukannya.



                                                                                #NoteToMySelf.


Wednesday, November 12, 2014

Kun!! Fayakun

Kapan kita mati?. Bukan. Bukan saya ingin anda atau saya segera mati. Coba renungkan ketika di dalam benak kita terbesit pertanyaan tersebut. Lalu, sudah berapa banyak bekal yang kita siapkan untuk menghadapinya? Sudah siapkah ketika pagi hari kita masih sehat bugar padahal malaikat maut sedang bersiap mencabut nyawa kita?
Karena ajal tak mengenal sehat atau sakit, tak mengenal tua atau muda, tak mengenal kaya atau miskin, tak mengenal gila atau waras, semua bergiliran tanpa pengklasifikasian hal.
Siapa sangka jika Pak Ipin yang baru saja pulang bermain badminton di gor dekat rumahnya tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Siapa sangka bapak tukang warteg dekat kosan saya menemui ajalnya sepulang belanja dari pasar.
Allah. Segalanya memang mudah bagi-Nya untuk menentukan kehidupan aktor-Nya di dunia. Dalam sekejap. "Tak semudah membalikan telapak tangan" tak berlaku bagi Sang Maha Raja. Kun!! Fayakun.
Pasti. Akan tiba suatu hari kita harus kembali "pulang". Semuanya akan kembali. Akankah sembari tersenyum tatkala yang ditinggalkan menangis. Atau sembari menangis dan yang lain tersenyum ketika kita "pulang".
Terkadang masih saja merasa percaya diri bahwa kita akan masuk syurga, sementara khilaf dan dosa menggunung hampir menyentuh langit. Masih saja merasa bahwa ajal masih jauh, padahal dia datang tak seperti hujan yang memperlihatkan mendungnya terlebih dahulu.
Sudah punya bekal apa?
Sudah punya bekal apa....
Sudah punya bekal apa........


#NoteToMySelf.

Friday, October 31, 2014

You Will Be


Mimpi,
Mimpi yang muncul tenggelam dalam irama nada kehidupan membuat raga dan hati tak henti mencari jatidiri.
Nyaris saja dia menghilang hanyut terbawa ombak yang tak kuasa ku genggam kuat.
Nyaris saja dia menghilang tergulung angin badai yang tak kuasa ku lawan, nyaris.
Bukanlah jarang diri ini merasa tak berarah tujuan, seolah berada dalam ruangan putih nan luas tanpa pintu, tak kutemukan titik terang kemanapun ku pergi.

Tetapi......


Tetapi....
Tuhan membangunkanku dan menyadarkanku dari tidur itu. Seolah Tuhan ingin melihat bukti, bukti bahwa mimpi tak terus menerus menjadi ilusi. Tiada daya dan upaya yang ku bisa lakukan selain dari-Nya. Dia disana, di satu titik puncak yang harus jatuh bangun aku menggapainya. "Ketika di tengah perjalanan kau merasa lemah, kenapa tak kau minta kekuatan pada yang Maha Kuat rin. Juga ketika hatimu merasa lelah, kenapa tak kau pinta pada Sang Maha Membolak-balikan Hati agar hatimu senantiasa ditentramkan". Mengalirlah terus, mengalirlah seperti air yang hendak bermuara. Pun dalam ketenangan dan kepasrahanya, air mampu melawan halangan dan menerobos celah yang menjadi hambatannya. Karena mimpi itu harus menjadi nyata, nyata dihadapan Semesta.



Jatuh Cinta Pada Pendakian Pertama

Ketika liburan akhir semester, saya diberi kesempatan untuk berpetualang ke Gunung Papandayan yang terletak di Kota Garut bersama beberapa teman dan kakak kelas sewaktu di Aliyah dulu. Karena ini kali pertama saya mendaki dan bermalam disana, saya belum hafal betul barang apa saja yang harus saya bawa ketika itu. Untungnya untuk perlengkapan kemah sudah ada yang menyediakan. Alhasil berangkatlah saya dengan perlengkapan seadanya, sangat seadanya; jaket yang tipis, sepatu kets yang biasa dipakai sekolah. Namun karena keinginan yang lebih besar untuk sampai di tujuan membuat saya merasa bahwa perlengkapan yang seadanya bukan menjadi penghalang untuk saya sampai disana. Namanya juga pemula hehe. Singkat cerita pada tanggal 3 Agustus 2014 berangkatlah saya bersama empat rekan lainnya dari Bandung menuju Garut menggunakan jasa elp.
Setelah sampai di Garut kita bertemu dengan tiga rekan lainnya. Disana kita menyiapkan dan re-check perlengkapan terlebih dahulu, mulai dari makanan, peralatan kemah, kendaraan, dan lain-lainnya.
Sebelum mulai mendaki kita harus menuju kaki gunung terlebih dahulu dan untuk sampai ke kaki gunung kita harus melalui jalan yang luar biasa, kalau kata salahsatu rekan saya "kayak naik ombak banyu", jalan yang banyak bolong-bolongnya parah itu membuat badan sakit dan pegel ketika sampai di kaki gunung. Tapii.... masa gitu aja nyerah.

Pendakianpun dimulaai!!

Setelah beberapa menit istirahat kita memulai pendakian, Udara disana sangat dingin sampai bukan hanya menusuk ke kulit tapi juga menusuk ke hidung. Belum lagi ditambah kepulan kabut yang keluar dari beberapa kawah. Di menit-menit awal kita masih terlihat kuat, tapi setelah beberapa lama kemudian kita mulai ngos-ngosan dan sering istirahat. Tidak terhitung berapa kali kita istirahat dari kaki gunung sampai ke tempat kemah. Canda tawa dan view pemandangan yang indah menjadi penguat untuk kita sampai di tujuan, belum lagi panorama kawah dan pemandangan lainnya yang memanjakan mata. Satu hal yang saya baru ketahui dan sangat saya sukai adalah bahwa antara pendaki dengan pendaki lainnya itu memiliki etika yang ramah, tak peduli itu siapa, tak peduli kenal atau tidak, tak peduli diluar atau aslinya dia bersifat judes atau acuh, tapi ketika mendaki gunung dan dia bertemu dengan pendaki gunung lainnya mereka akan saling bertegur sapa, atau bahkan terkadang menyemangati. Interest thing.

Setelah menempuh kurang lebih 4 jam pendakian, sampailah kita di tempat perkemahan gunung papandayan, kita sampai disana kurang lebih jam lima sore. Sementara kita istirahat, teman-teman lelaki mendirikan tenda.

Malam pun tiba, suhu gunung dan hembusan angin yang seringkali menyapa tubuh saya semakin membuat saya merasa kedinginan, karena yaa yang saya katakan di awal, saya membawa jaket yang biasa-biasa saja, jaket sport yang di belakangnya bertuliskan "GERMANY" hehe. Malam itu setelah semua selesai shalat, kita berkumpul di tenda dengan kompor portable di tengah-tengah seolah menjadi penghangat, tapi tujuan utamanya bukan itu, kita berbincang, bercanda, berceloteh, sambil memasak mie. Setelah merasa damai karena perut telah tertunaikan haknya. kita mulai memejamkan mata.

Malam yang gelap telah berganti menjadi pancaran sinar yang berasal dari matahari. Pagi yang indah sekali. Embun yang menetes dari ujung daun yang mau tak mau membuat daun itu merunduk. Pemandangan yang mulai terlihat meskipun masih diselimuti kabut. Tepat di depan tenda tempat kita tidur terlihat gunung yang menjulang, puncak Gunung Papandayan. Shubhanallah. Inilah salahsatu dari beberapa karya Tuhan yang saya lihat. Begitu indah. Ini belum seberapa, ada tempat dimana disana akan membuat saya lebih takjub lagi akan kekuasaan-Nya. Jannah-Nya salahsatunya.

Tibalah saatnya untuk kami kembali turun ke kaki gunung setelah kita membereskan segala halnya. Dalam perjalanan menuju kaki gunung kita menempuh jalan yang berbeda dengan rute ketika kita berangkat. Kita melewati death florest (hutan mati) yang sangat indah. Karena perjalanan menuju kaki gunung lebih mudah daripada pendakian sehingga tidak sering istirahat, akhirnya kurang dari empat jam kita sudah sampai di kaki gunung.
Dan kitapun kembali ke rumah masing-masing dengan rasa senang, cape, takjub dan penuh syukur terhadap segala yang kita alami dan kita lihat di sepanjang perjalanan kita. Karena ada beberapa hal yang tidak oranglain rasakan dan hanya dirasakan oleh yang sudah mendaki gunung. Banyak hikmah disana. Dan dari sinilah saya semakin jatuh cinta, pada-Nya dan pada keajaiban ciptaan-Nya.

Dan kita tidak mempunyai alasan untuk tidak mengabadikan setiap keindahan ciptaan-Nya:


Nanjak


Istirahat, setelah kurang lebih menempuh tiga jam pendakian.


Pondok Salada (lahan perkemahan)